Oleh: ARDA DINATA
Persahabatan hakiki merupakan kata-kata indah untuk didengarkan dan tentunya setiap orang mendambakan realitas hal tersebut. Persahabatan itu sendiri berarti perhubungan selaku sahabat. Sahabat adalah teman disegala suasana. Asik diajak berdiskusi, juga penuh kesabaran mendengarkan keluh-kesah. Apalagi saat senang memang enak dijalani bersama. Begitu pun saat susah, terasa ringan dengan berbagi cerita terhadap sahabat.
Menjalin ikatan persahabatan merupakan aktivitas yang fithriyyah bagi kita, karena manusia memang ditakdirkan Allah menghuni bumi ini sebagai makhluk sosial. Dari aktivitas tersebut, kita bisa belajar mengenai kehidupan lebih banyak lagi. Lewatnya, kita bisa bercermin. Melalui cermin persahabatan ini, kita bisa melihat perbedaan-perbedaan sifat/karakter manusia dan pola kehidupannya. Dari sini, diharapkan kedewasaan dan kesabaran kita menjadi tertanam secara kokoh.
Untuk mencapai makom persahabatan hakiki, Islam jauh-jauh hari telah memberi petunjuk untuk mencapai persahabatan hakiki itu. Yakni persahabatan yang dibalut dengan sibghah Allah. Tepatnya, bersahabat dalam pancaran Nur Islam ini, ternyata tidak hanya berupa jalinan dua orang insan yang seiman dan seaqidah (baca: ibarat satu tubuh). Tetapi, juga otomatis dan tidak bisa tidak, dalam bahasa Aa Gyim adalah mesti ada “pihak ketiga” yang ikut mengikatkan diri serta kian memperteguh ikatan dianatara keduanya, yaitu Allah Dzat Yang Maha memiliki rasa kasih dan sayang. Singkatnya, persahabatan dalam Islam memang akan selalu melibatkan keberadaan Allah di tengah-tengah kita.
Berikut ini, ada beberapa ruang lingkup jalinan persahabatan yang perlu dirajut dan dibina oleh setiap manusia untuk mencapai predikat persahabatan kakiki.
1. Menjalin Persahabatan dengan Allah SWT.
Persahabatan pertama dan utama yang mesti dijalin oleh setiap manusia adalah persahabatan dengan Allah SWT. Sang pemilik dan pengatur persahabatan setiap makhluk-Nya. Dampaknya, bila Allah telah nyata-nyata melibatkan diri didalamnya, maka konsekuensinya tidak hanya persahabatan itu menjadi indah dan nikmat melebihi saudara sedarah. Tetapi, lebih dari itu, Allah akan selalu siap menurunkan pertolongan-Nya tatkala kesulitan menghadang atau setiap waktu kita memintanya.
Jaminan hal tersebut, terungkap dalam QS. Al Baqarah: 186, yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Dari sini, terungkap jelas bahwa untuk menjalin persahabatan manusia dengan Allah itu, maka syaratnya tidak lain adalah beriman dan bertaqwa kepada Allah. Lagian, saling mencintai (baca: persahabatan) karena Allah termasuk ibadah yang paling utama, dan ia adalah buah dari akhlak yang baik. Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya yang terdekat dariku di antara kamu duduknya adalah yang terbaik akhlaknya di antara kamu dan merendahkan diri, yang mencintai dan dicintai.”
Untuk itu, pantas saja Allah mengumpamakan terhadap persahabtan yang kokoh kuat dalam sibghah Allah, dalam cahaya iman dan Islam, yaitu sebagai “Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).” Sungguh indah perumpamaan Allah ini.
Jadi, persahabatan dengan Allah ini adalah sesuatu yang harus kita pilih terlebih dahulu, sebelum menjalin persahabatan-persahabatan lainnya. Dan ini, tentu sebagai bukti penghambaan kita kepada-Nya.
2. Menjalin Persahabatan dengan Pribadinya Sendiri.
Berawal dari mantapnya jalinan persahabatan dengan Allah, maka langkah selanjutnya adalah menjalin persahabatan dengan pribadinya sendiri, sebelum bentuk persahabatan dengan lainnya. Bagaimana caranya?
Bersahabat dengan pribadinya sendiri berarti kita memenuhi dan memahami setiap fitrah diri sebagai manusia yang sesuai dengan ketentuan-Nya. Yakni sebagai khalifah di muka bumi ini. Lagian, dalam pandangan Islam, setiap pribadi (manusia), lebih dahulu harus memperhatikan serta meneliti atas kejadian diri pribadinya sendiri. Misalnya, dari apa dia dijadikan dan apa tujuan serta ke mana ia akan kembali (baca: QS. 86: 5-7).
Berawal dari pengenalan (persahabatan) dengan diri sendiri ini, tentu sudah seharusnya tiap pribadi itu mampu memformulasikan persahabatan lainnya yang sesuai ridha-Nya. Sehingga melalui kesuksesan membangun persahabatan ini, akan mengantarkan kepada kesusksesan persahabatan lainnya di dunia.
Dalam hal ini, Asy-Syafi’i ra. memberi tuntunan bahwa tidak seorang muslim pun yang taat kepada Allah tanpa mendurhakai-Nya. Maka barangsiapa yang ketaatannya lebih menonjol daripada maksiatnya, ia pun adil. Artinya, bila orang ini adil dalam hak Allah SWT, maka dalam hakmu ia lebih utama baginya. Maka jadilah engkau termasuk orang yang menampakkan kebagusan dan menutupi keburukan, karena Allah SWT disifatkan demikian dalam doa. “Ya Tuhan yang menampakkan kebagusan dan menutupi keburukan.”
Pendeknya yang diridhai di sisi Allah adalah orang yang berakhlak dengan akhlak-Nya dan Dialah yang menutupi kejelekan dan mengampuni dosa-dosa manusia itu. Dalam konteks ini, iman seseorang tidak sempurna hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.
Hal itu berarti, pada tataran jalinan persahabatan dengan siapa dan dalam bentuk apa pun, tentu harus terlebih dahulu membangun terhadap kencintaan pada dirinya sendiri sesuai harapan-Nya. Baru kemudian kemulyaan akhlak dan iman diri manusia itu, dijalinkan kepada persahabatan terhadap pihak lainnya.
3. Menjalin Persahabatan dengan Sesama Manusia.
Persahabatan dengan sesama manusia ini merupakan aktualisasi dan penjabaran dari buah bentuk persahabatan sebelumnya. Aktivitas persahabatan yang ketiga ini, akan menentukan catatan-catatan amaliah di dunia. Apakah baik-buruk, bahagia-sedih, sukses-gagal, dan sejenisnya.
Untuk itu, tidak setiap orang patut dijadikan sahabat kita. Nabi Saw. bersabda, “Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kamu melihat siapa yang akan dijadikan temannya.”
Dalam hal ini, Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa haruslah dipertimbangkan sejumlah perkara. Yakni, ia harus seorang yang berakal. Berakhlak baik, tidak berambisi atas keduniaan. Adapun akal, ia adalah modal.
Oleh karena itu, kata Al Ghazali bahwa memutus hubungan dengan orang dungu adalah pendekatan dengan Allah. Begitu pula orang fasik tidak ada faedahnya bila berteman dengannya, karena siapa yang takut Allah, ia pun tidak terus menerus melakukan dosa besar, dan siapa yang tidak takut kepada Allah, maka ia pun suka mengganggu orang lain.
Dalam hal ini, Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Walau demikian, sesungguhnya setiap mukmin terdapat sifat, cita-cita dan aqidah. Maka seharusnya secara otomatis persahabatan akan tercipta sebagai akibat dari suatu karakter dari keimanan mereka. Allah menyebutkan dalam suatu firma-Nya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara ….” (QS. Al-Hujuraat:10).
Sifat yang lazim dari konsekuensi keimanan itu akan melahirkan ukhuwwah fillah (persaudaraan karena Allah). Dan ini merupakan perangai yang cocok sebagai teman bagi ketaqwaan. Dengan demikian, maka tidak ada persahabatan sejati tanpa adanya iman dan tidak adanya iman tanpa adanya persahabatan.
Pada konteks ini, Al Ustadz Husnie Adham Jarror dalam bukunya Al Ukhuwwah Wal Hubb Fillah menuliskan, jika anda mendapati suatu persaudaraan yang dibelakangnya tidak didukung oleh keimanan maka akan anda dapati bahwa persaudaraan senacam itu tidak akan membawa kemaslahatan dan manfaat yang saling timbal balik. Begitu juga jika anda dapati keimanan (iman) yang tidak didukung oleh persaudaraan maka bisa anda simpulkan bahwa betapa rendah kadar keimanan itu yang bahkan justru mengarahkan kepada keterjerumusan.
Berkait dengan persahabatan karena Allah dengan kasih sayang dan kebaikan, diriwayatkn oleh Ibnu Abbas ra. Bahwa Nabi Saw. bersabda: “Sekuat-kuat iman adalah persaudaraan karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).
Indahnya persahabatan karena Allah ini, telah dicontohkan para sahabat Rasulullah Saw. Kisah ini terjadi ketika Perang Yarmuk, yaitu antara Ikrimah, Suhail bin Amru, dan Harits bin Hisyam. Diwaktu mereka dalam keadaan kritis (karena terluka dalam peperangan) kepada mereka disampaikan minumn, akan tetapi mereka semuanya menolak karena saling ingin mendahulukan saudaranya sehingga akhirnya mereka semua syahid karenanya.
Ceritanya, ketika minum itu ditawarkan kepada salah seorang diantara mereka, ia berkata: “Berikan saja minum itu kepada si fulan …” Sampai akhirnya mereka gugur semua, sedang mereka belum sempat meminumnya. Ketika Ikrimah menerima air tersebut, dia sempat melihat Suhail, kemudian ia berkata: “Berikan saja kepada Suhail dulu.” Ketika Suhail, hendak minum, ia sempat melihat Harist memperhatikannya, kemudian ia berkata: “Berikan saja pada Harits dulu.” Namun belum pun air itu sampai kepada Harits, ia pun keburu gugur.
Sungguh indah dan luar biasa, apabila kita dapat mempraktekkan hakekat dari kisah persahabatan di atas. Bentuk persahabatan antara sesama manusia itu, misalnya bisa dengan kedua orang tua (baca: seperti dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. saat akan mengorbankan anaknya, Nabi Ismail as.), saudara, teman, suami-istri, dan sejenisnya.
4. Menjalin Persahabatan dengan Manusia yang Telah Meninggal Dunia.
Terjalinnya persahabatan yang baik pada manusia selama hidupnya di dunia (baca: persahabatan dengan sesama manusia), maka akan mengantarkan terjalinya persahabatan yang baik pula terhadap orang yang telah meninggal, nantinya. Dalam arti lain, persahabatan/ hubungan orang yang masih hidup dan telah meninggal itu masih terus berlangsung, walaupun tidak berhubungan secara fisik.
Dari Sofyan, dari seorang yang mendengar dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda: “Amalan orang yang masih hidup berpengaruh terhadap orang tuanya yang telah meninggal. Jika yang masih hidup berbuat baik maka yang telah mati akan memuji Allah dan merasa gembira. Jika yang masih hidup berbuat jelek maka orang tuanya yang telah meninggal dunia berdoa: Ya Allah, jangan Kau matikan dia sebelum Kau beri hidayah.”
Nabi Saw. bersabda: Di dalam kuburnya, orang yang telah mati merasa terganggu sebagaimana ia merasakannya ketika ia masih hidup.”
“Gangguan macam mana itu,” tanya sahabat.
“Seorang yang telah mati tak bisa melakukan dosa, tidak bisa bertengkar, bermusuhan dan tidak bisa menyakiti tetangga. Hanya saja bila kamu bertengkar dengan seseorang, pastilah orang tersebut akan mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu. Saat itulah orang tuamu yang telah meninggal akan terganggu oleh perlakukan buruk itu. Sebaliknya, mereka yang telah mati merasa gembira ketika ia mendapatkan kebaikan yang menjadi hak mereka.”
Di bagian lain, dijelaskan juga dari Abdul Aziz bin Suhaib bahwa ia mendengar hadis dari Anas bin Malik. Lewatlah iring-iringan jenazah yang lain. Mereka menyebut-nyebut kejelekannya. Nabi bersabda, “Pastilah akan mendapatkannya.”
“Apa yang pasti, wahai Rasul?” tanya Umar.
“Yang kalian puji kebaikannya pastilah mendapat sorga. Demikian juga yang kalian sebut kejelekannya pastilah mendapat mereka.” Nabi melanjutkan sabdanya, “Kalian akan menjadi saksi Allah di bumi.”
Di bagian lain, dari Abdul Aswad Addaili: Saat itu aku duduk di dekat Umar. Nabi bersabda: “Seseorang yang mati lantas ada tiga orang bersaksi akan kebaikannya maka pastilah ia mendapat sorga.”
“Kalau cuma dua orang, wahai Rasul?” tanyaku.
“Ya, meskipun cuma dua orang.”
Kami tidak bertanya bila yang menjadi saksi hanya satu orang.
Kalau kita cermati dari beberapa keterangan di atas, terlihat jelas perlunya terjalin persahabatan yang harmonis di dunia, yang mampu menolong “sahabatnya” bila telah meninggal dunia. Inilah jalinan persahabatan dengan orang yang telah meninggal dunia. Melihat betapa pentingnya bentuk jalinan persahabatan sampai seseorang meninggal ini, maka sahabat yang masih hidup ini berpengaruh terhadap kesaksian atas amal sahabatnya yang telah meninggal itu.
Dari Amir bin Rabi’ah, Nabi bersabda, “Jika seseorang meninggal dan Allah mengetahui kejelekannya sedang orang-orang mengatakannya baik, maka Allah berfirman kepada Malaikat: Kalian jadi saksi bahwa Aku terima hamba-Ku atas hamba-Ku yang mati. Kuampuni dia dengan sepengetahuan-Ku..."
5. Menjalin Persahabatan dengan Alam Semesta.
Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., adalah agama rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin). Kata ‘rahmat’ mencakup makna yang amat luas. Dari kata itu dapat difahami bahwa keselamatan, kesejahteraan, kesehatan, dan sejenisnya adalah rahmat yang perlu kita bangun untuk mewujudkannya serta mensyukurinya.
Untuk mencapai rahmat-rahmat tersebut, kita punya kewajiban untuk menjaga dan memfungsikan secara bijak atas alam semesta. Inilah namanya menjalin persahabatan dengan alam semesta.
Kita mengetahui dari awal, alam semesta diciptakan oleh Allah bukan main-main (dengan hak-Nya), dengan tujuan antara lain sebagai tanda kekuasaan Allah bagi yang berakal, mengetahui, bertaqwa, mau mendengarkan pelajaran, dan mereka yang memikirkan.
Selain itu, juga untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia, sebagai suatu rahmat dari Allah; untuk kepentingan manusia dan menyempurnakan nikmat; untuk menguji semua manusia; siapa-siapa saja yang lebih baik amalnya dalam hidup ini.
Melihat begitu pentingnya alam semesta terhadap kelangsungan kehidupan manusia, maka kita perlu menjalin persahabatan (baca: menjaga lingkungan alam) sesuai dengan batas-batas ketentuan-Nya. Lagian, walau bagaimanapun lingkungan hidup itu mampu mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Jadi, posisi keselamatan lingkungan hidup ini, tentu memiliki porsi besar dalam menentukan kelangsungan kehidupan manusia di muka bumi ini.
Adanya beberapa bencana alam dewasa ini, seperti longsor, banjir kebakaran hutan, dll. Itu merupakan bukti manusia kurang bersahabat dengan alam semesta. Karena pada dasarnya, alam itu mampu menyeimbangkan dirinya sendiri, seandainya tidak terjadi keserakahan manusia.
Dalam hal ini, jalinan persahabatan terhadap alam ini tentu tidak terlepas pada dasar awal dari persahabatan itu sendiri. Yakni karena Allah SWT. Inilah landasan persahabatan yang sebaik-baiknya. Allah menginformasikan dalam surat Ar-Rum ayat 41, (yang artinya): “Telah timbullah kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan mereka sendiri, biar mereka dapat merasakan sendiri akibat perbuatannya, supaya kembali kepada Tuhan.”
Akhirnya, apa yang telah dipaparkan di atas, tidak lain adalah sesuatu yang mesti kita bina dengan jalinan persahabatan karena Allah. Yang untuk kondisi saat ini merupakan sesuatu yang terlihat mulai renggang ---kalau tidak mau disebut rapuh---.
Dan sesungguhnya persahabatan hakiki itu merupakan buah dari kebajikan akhlak, sedangkan tafarruq (perselisihan) tidak lain merupakan hasil dari kebejatan akhlak. Maka akhlak yang bagus akan membuahkan rasa saling cinta, saling bersatu, dan saling memberi manfaat; sedangkan akhlak yang buruk akan menghasilkan rasa saling membenci, saling mendengki, dan saling mencelakakan. Hanya Allah-lah sebaik-baiknya tempat kita kembali. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
16 September 2008
Mengendalikan Marah dalam Berbagai Kondisi
Oleh: ARDA DINATA
Manusia merupakan makhluk multidimensional, karena keberadaannya didukung oleh beberapa unsur. Atas izin Allah Swt, diciptakan wujud manusia dari empat unsur (yaitu air, api, angin dan tanah) sehingga dunia ini penuh liku-liku kehidupan. Ada penjarahan, kekerasan, peperangan, permusuhan, persahabatan, perdamaian, kemarahan, dan lainnya.
Adanya unsur api dalam wujud manusia, maka timbul amarah yang siap menghiasi setiap perilaku manusia. Unsur api ini, konkretnya berupa telinga. Dengan telinga, orang bisa mendengar. Artinya, seseorang menjadi tersinggung dan marah, biasanya karena mendengar sesuatu yang tidak dikehendakinya. Bisa karena cemoohan, pelecehan, celaan, makian, dan sindiran yang menyakitkan hatinya.
Sebaliknya, seseorang menjadi lembut hatinya, baik budi pekertinya, dan berkurang amarahnya, jika mendengar kata-kata yang baik, sopan santun, rendah hati, dan menyenangkan. Bukankah api akan padam bila disiram air?
Dalam bahasa lain, marah itu bersumber dari setan. Karena setan terbuat dari api, sehingga pada saat seseorang marah maka hawa setan akan terasa wujudnya. Yakni dengan adanya hawa panas seperti api.
Konsekuensi dari keberadaan amarah dalam diri seseorang itu memiliki dua kemungkinan. Pertama, marah yang tidak terkendali akan melahirkan perbuatan merusak, sebagaimana api yang tidak terkendali akan meluluhlantahkan benda apapun yang dapat disentuhnya. Realitasnya, marah bisa merusak kehidupan dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Kedua, marah merupakan suatu emosi yang mempunyai fungsi penting bagi manusia. Yakni membantu dalam menjaga diri. Ketika seseorang sedang marah, maka tenaganya seharusnya untuk melakukan upaya keras yang memerlukan otot, semakin bertambah.
Dalam arti lain, pada saat emosi marah dan emosi-emosi lainnya sedang berlangsung, akan timbul perubahan fisiologis, antara lain keluarnya hormon adrenalin yang berpengaruh terhadap hati, dan membantunya mengeluarkan zat gula dalam jumlah yang berlebihan, sehingga tenaga dalam tubuhnya makin kuat. Dalam kondisi demikian, orang tersebut akan mampu melakukan kerja berat yang dituntut oleh pertahanan diri, ketika sedang marah, atau lari pada saat ketakutan.
Pentingnya Mengendalikan Marah
Pada saat emosi marah menguasai diri seseorang, maka akan terjadi ketidak seimbangan pikiran manusia. Yakni kemampuannya untuk berpikir sehat akan hilang. Atas alasan seperti itulah, barangkali kenapa Sayyid Mujtaba M.L. mengungkapkan bahwa kejahatan merupakan perwujudan dari kepribadian yang tidak seimbang. Ketika seorang individu kehilangan pengawasan atas akalnya, maka ia juga akan kehilangan kendali atas kehendak dan dirinya sendiri. Manusia tersebut tidak hanya lepas dari kendali akal, tetapi juga kehilangan perannya sebagai unsur yang produktif dalam kehidupan dan pada gilirannya berubah menjadi makhluk sosial yang berbahaya.
Lebih jauh digambarkan Sayyid, amarah mengubah manusia laksana sungai kecil yang mengalir di antara gunung-gunung yang tinggi sehingga menciptakan suara-suara bising. Manusia mulia yang memiliki keunggulan moral adalah laksana sungai besar yang mengalir di antara rawa-rawa dan bermuara di laut tanpa menimbulkan gelombang.
Adanya sifat buruk berupa marah, tentu membutuhkan kehendak yang kuat untuk mencegahnya mempengaruhi jiwa. Jika tidak, ia dapat memaksa seorang individu untuk membuat keputusan di bawah tekanan. Sehingga keberadaannya dapat menuntun manusia ke dalam nasib yang tidak menentu, lagi merugi.
Berikut ini ada beberapa alasan, mengapa seorang individu dianggap penting untuk mengendalikan marah dalam kehidupan kesehariannya, yaitu: Pertama, marah menyebabkan tercela. Timbulnya sikap marah ini, biasanya akan melahirkan suatu perasaan menyesal setelah marahnya berhenti.
Dalam hal ini, Dr.Mardin telah menguraikan bahwa seseorang yang sedang marah, apapun alasannya akan menyadari ketidak berartian hal itu segera setelah ia tenang, dan dalam kebanyakan kasus ia akan merasa harus meminta maaf kepada mereka yang telah ia hina. Jika anda membiasakan diri untuk mengakui ketidakgunaan amarah tatkala ia muncul, maka anda dapat mengurangi tingkatan dari berbagai akibat yang tidak diinginkan. Untuk itu, tepatlah apa yang dikatakan Imam Ja’far Ash-Shadiq as, yaitu ”Hindarilah amarah, karena hal itu akan menyebabkan kamu tercela.”
Kedua, marah dapat membinasakan hati. Marah itu tidak lain merupakan salah satu penyakit hati yang kalau dibiarkan akan dapat merusak diri secara keseluruhan. Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Amarah membinasakan hati dan kebijaksanaan, barangsiapa yang tidak dapat menguasainya, maka ia tidak akan dapat mengendalikan pikirannya.”
Ketiga, marah dapat merubah fungsi organ tubuh. Berkait dengan ini, Dr.Mann menyebutkan bahwa berdasarkan penyelidikan ilmiah mengenai pengaruh fisiologis akibat kecemasan (baca: marah-Pen) telah mengungkapkan adanya berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah. Hormon adrenalin dan hormon-hormon lainnya menyalakan bahan bakar pada saat marah muncul.
Keempat, marah akan ‘mempercepat kematian.’ Amarah dan kekecewaan yang terjadi pada seseorang akan mempengaruhi atas kualitas kesehatannya. Menurut para ahli kesehatan, amarah dapat menyebabkan kematian secara mendadak jika hal itu mencapai tingkat kehebatan tertentu.
Dalam hal ini, Dr.Mardin mengungkapkan, “Apakah mereka yang memiliki hati lemah menyadari bahwa beberapa kekecewaan dapat mengorbankan hidupnya? Mereka mungkin tidak mengetahui, tetapi harus disadari bahwa banyak individu yang sehat menjadi korban akibat amarah yang hebat, sehingga ia mati oleh serangan jantung. Amarah juga dapat berakibat hilangnya nafsu makan serta mengganggu otot dan syaraf selama berjam-jam atau berhari-hari. Amarah, secara merugikan, mempengaruhi seluruh fungsi spiritual dan tubuh. Bahkan amarah seorang ibu yang sedang menyusui dapat mengakibatkan peracunan yang berbahaya terhadap air susunya.”
Imam Ali as pernah berkata, “Barangsiapa yang tidak dapat menahan amarahnya, maka akan mempercepat kematian.”
Kiat Mengendalikan Marah
Sungguh indah, manakala setiap kita dapat mengendalikan marah, karena sifat marah ini menurut Imam Ali as, awalnya adalah ketidakwajaran dan akhirnya penderitaan. Amarah itu ibarat api yang mengamuk. Barangsiapa dapat mengendalikannya, berarti ia memadamkan api itu dan barangsiapa membiarkannya, berarti dia yang pertama kali terbakar.
Secara umum, ada beberapa kiat untuk mengendalikan diri ketika marah. Seperti yang diungkap Drs. Karman, ada empat kiat yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan marah. Pertama, bila anda sedang marah maka hendaklah membaca “ta’awwudz” (mohon perlindungan) kepada Allah Swt, sebab pada hakekatnya perasaan marah yang tidak terkendali adalah dorongan setan. Nabi Saw bersabda, “Apabila salah seorang diantaramu marah maka katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Allah,’ maka marahnya akan menjadi reda.” (HR. Abi Dunya).
Kedua, bila anda sedang marah maka berusahalah untuk diam atau tidak banyak bicara, sebagaimana sabda Nabi Saw, “Apabila salah seorang diantara kamu marah maka diamlah.” (HR. Ahmad).
Ketiga, bila anda sedang marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, bila duduk masih marah maka berbaringlah. Hal tersebut ditegaskan oleh Nabi Saw, “Marah itu dari setan, maka apabila salah seorang di antaramu marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, dan apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah.” (HR. Asy-Syaikhany).
Keempat, bila upaya ta’awwudz, diam, duduk, dan berbaring tidak mampu mengendalikan amarah anda, maka upaya terakhir yang bisa dilakukaan adalah dengan cara berwudhu atau mandi. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seorang di antaramu marah maka berwudhulah atau mandilah.” (HR. Ibnu Asakir, Mauquf).
Berikut ini, ada beberapa lahan dan tatanan pengendalian marah dalam berbagai kondisi kehidupan keseharian yang seharusnya dapat kita kendalikan, diantaranya adalah:
1. Pengendalian Marah dalam Keluarga.
Kehidupan dalam keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak itu sangat berpeluang untuk tercetusnya emosi marah. Penyebabnya, bisa macam-macam. Mulai dari yang sepele sampai yang serius dan rumit. Sebenarnya marah adalah reaksi emosional yang sangat wajar, seperti juga perasaan takut, sedih dan rasa bersalah. Hanya biasanya kemarahan itu memunculkan dampak langsung yang lebih merusak.
Menurut Heman Elia, seorang psikolog, menuntut agar anak tidak marah bukan saja tidak realistis, namun juga kurang sehat. Anak yang kurang mampu memperlihatkan rasa marah dapat menderita cacat cukup serius dalam hubungan sosialnya kelak. Ia mungkin tampak seolah tidak memiliki daya tahan atau kekuatan untuk membela diri dalam menghadapi tekanan sosial. Akibatnya, ia mudah terpengaruh dan mudah menjadi obyek manipulasi orang lain.
Secara demikian, kita harus bersikap bijaksana dalam menyikapi kemarahan seorang anak. Caranya yaitu dengan membantu anak untuk menyatakan kemarahan secara wajar dan proposional. Heman Elia, menyarankan dalam mengajar anak mengungkapkan kemarahan haruslah dimulai sedini mungkin. Terutama sejak anak mulai dapat berkata-kata. Kuncinya adalah agar anak menyatakan kemarahan dalam bentuk verbal.
Sementara itu, manakala seorang anak kecil merasa kecewa tanpa anda memarahinya dengan kasar, maka menurut Dr.Victor Pashi, anda dapat menekan amarah tersebut dengan memandikannya menggunakan air dingin atau menyelimutinya dengan kain lembab atau basah.
Lebih dari itu, Jaudah Muhammad Awwad, dalam Mendidik Anak Secara Islam, mengungkapkan bahwa pada anak, faktor pemicu kemarahan lebih berkisar pada pembatasan gerak, beban yang terlalu berat dan di luar kemampuan anak, penjauahan anak dari sesuatu yang disukainya, atau pemaksaan kepada anak untuk mengikuti tradisi atau sistem yang ditetapkan.
Oleh sebab itu, Jaudah menyarankan ada beberapa hal yang patut kita perhatikan dalam mengatasi kemarahan yang timbul pada anak-anak kita, diantaranya adalah:
· Tidak membebani anak dengan tugas yang melebihi kemampuannya. Kalaupun tugas itu banyak atau pekerjaan yang diluar kemampuannya itu harus diberikan, kita harus memberikannya secara bertahap dan berupaya agar anak menerimanya dengan senang.
· Ciptakan ketenangan anak karena emosi yang dipancarkan anggota keluarga, terutama ayah dan ibu, akan terpancar juga dalam jiwa anak-anak.
· Hindarkan kekerasan dan pukulan dalam mengatasi kemarahan anak karena itu akan membentuk anak menjadi keras dan cenderung bermusuhan.
· Gunakan cara-cara persuasif, lembut, kasih-sayang, dan pemberian hadiah.
· Ketika anak kita dalam keadaan marah, bimbinglah tangannya menuju tempat wudhu dan ajaklah dia berwudhu atau mencuci mukanya. Jika dia marah sambil berdiri, bimbinglah agar dia mau duduk.
Adapun upaya pengendalian amarah dalam hubungan suami-istri, sebenarnya lebih ditekankan pada bagaimana mengendalikan ego masing-masing. Kunci utama dalam mencegah munculnya amarah di antara suami-istri ini adalah berusaha dengan membangun terciptanya iklim keterbukaan dan kasih sayang di antara keduanya. Begitu pula halnya dengan anggota keluarga lainnya, seperti dengan anak-anak.
Dan ketika salah satu pihak (terpaksa) marah, maka hendaknya pihak lainnya harus mampu untuk menggekang keinginan membalas kemarahannya. Sikap kita lebih baik diam. Karena diam ketika suasana marah merupakan upaya yang efektif dalam mengendalikan amarah agar keburukannya tidak menyebar ke lingkungan sekitarnya.
2. Pengendalian Marah dalam Lingkungan Kerja.
Kualitas kerja yang dihasilkan seseorang, memang terkait erat dengan situasi dan kondisi lingkungan kerjanya. Begitu juga berkait tercetusnya kemarahan pada orang di tempat kerja, bisa diakibatkan oleh lingkungan kerja yang buruk.
Salah satu yang sering menjadi penyebab timbulnya emosi marah di lingkungan kerja, diantaranya adalah suasana bising dan tidak menyenagkan, adanya persaingan yang tidak sehat di antara pekerja, hubungan yang tidak harmonis antara pimpinan dan bawahan, dan lainnya.
Untuk itu, upaya pengendalian marah dalam lingkungan kerja yang pertama mesti kita ciptakan adalah berupa lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan. Kemudian buat peraturan yang membikin para pekerja berperilaku kondusif dalam menjalankan tugasnya dan menjalin hubungan baik dengan sesama teman maupun pimpinannya. Dan yang tidak kalah penting juga adalah isilah pikiran dan hati kita dengan tidak terlepas dari mengingat Allah sebanyak-banyaknya dikala bekerja, serta memohon agar dilindungi dari segala tipu daya godaan setan. Yakni dengan membangun kebersihan hati dari hal-hal yang mengotorinya.
3. Pengendalian Marah dalam Lingkungan Tetangga.
Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita. Sehingga apa-apa yang dilakukan dan terjadi pada tetangga, biasanya kita lebih banyak mengetahuinya daripada saudaranya yang jauh tempat tinggalnya. Begitu pula sebaliknya, apa yang terjadi pada kita maka tetangga pun akan lebih dulu mengetahuinya daripada saudara kita yang jauh. Kondisi demikian, tentu sangat berpotensi terhadap munculnya emosi marah karena sesuatu hal yang dilihat dan didengarnya dari tetangga.
Untuk itu, langkah tepat dalam mengendalikan marah di lingkungan tetangga adalah dengan berusaha menjaga hati kita dari hal-hal yang merusaknya. Karena faktor inilah biasanya sebagian besar sebagai pemicu terjadinya marah antar tetangga. Langkah selanjutnya bisa dengan membangun dan mengembangkan tatanan silaturahmi di antara tetangga kita. Melalui silaturahmi inilah, kita dapat memahami karakter dan kebiasaan masing-masing anggota keluarga tetangga tersebut. Sehingga kita dapat menghindari terhadap sesuatu yang dapat menyebabkan munculnya emosi marah di antara tetangga.
4. Pengendalian Marah dalam Berkendaraan di Jalan Raya.
Pada saat berkendaraan di jalan raya, seseorang bisa saja menjadi marah oleh kondisi kendaraan yang mengganggunya atau terjadinya macet, perilaku pengguna kendaraan lain yang tidak sopan, suara bising, udara panas, dan lainnya. Yang jelas, berdasarkan hasil penelitian para ahli kesehatan menyebutkan bahwa keadaan marah-marah (emosinya meningkat) dari orang-orang yang (berkendaraan) di jalan raya, diantaranya disebabkan oleh saking seringnya mereka bergelut dengan asap kendaraan bermotor (baca: karena menghirup gas CO), apalagi keadaan ini lebih diperburuk oleh situasi lalu lintas yang semrawut (tidak beraturan). Lingkungan demikianlah salah satu penyebab kenapa seseorang di jalan raya kuantitas emosionalnya menjadi lebih meningkat.
Ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan timbulnya emosi marah dalam berkendaraan di jalan raya ini, diantaranya yaitu dengan selalu menyempurnakan ikhtiar berupa menjaga etika mentaati peraturan di jalan raya. Kita hendaknya selalu berdoa agar mendapat perlindungan dan terbebas dari gangguan setan. Menjaga hati dengan tidak mengotori ucapan saat berkendaraan serta hendaknya kita selalu tebarkan senyum dan salam terhadap sesama pengguna jalan. Dan juga tambatkan hati kita dengan selalu mengingat (dzikir) kepada Allah Swt.
5. Pengendalian Marah dalam Proses Belajar.
Proses belajar merupakan aktivitas keseharian dari orang-orang yang sedang menuntut ilmu, baik formal maupun non formal. Dalam aktivitas belajar ini, emosi marah muncul biasanya disebabkan oleh beberapa faktor yang berhubungan langsung ataupun tidak langsung dengan kegiatan belajar. Bisa karena tugas yang menumpuk, kesulitan mengerjakan soal ujian, ketahuan menyontek, membolos, buruk sangka kepada teman, kegiatan rutinitas belajar itu sendiri, dan lainnya.
Alternatif yang bisa kita lakukan dalam usaha mengendalikan emosi marah pada saat proses belajar, diantaranya adalah dengan membiasakan diri berperilaku jujur bahwa kita harus belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup di dunia dan akherat nanti.
Tanamkan dalam diri kita bahwa segala aktivitas yang diberikan dalam proses belajar itu, tidak lain merupakan sesuatu yang harus dinikmati dan sebagai jalan bagi pendewasaan atau kesuksesan kita sendiri di kemudian hari. Dan jauhkan sikap kotor hati terhadap pihak-pihak yang bersentuhan/ berhubungan dengan proses belajar yang kita lakukan.
Sedangkan berkait dengan timbulnya marah akibat kebosanan rutinitas proses belajar, kiranya patut kita coba dan lakukan apa yang disarankan oleh Dr.C.Robbin, bahwa kebersihan tubuh memiliki pengaruh yang baik terhadap tingkah laku (baca: proses belajar-Pen). Mandi menggunakan air hangat setiap pagi dan sore selain dapat menghilangkan kebosanan. Mandi dengan air hangat juga dapat menekan amarah yang mungkin timbul oleh kebiasaan (rutinitas) sehari-hari. Oleh sebab itu kita dapat memberikan penekanan akan pentingnya hal itu bagi tubuh dan pikiran.
Akhirnya, ketika seseorang tidak dapat berpikir sehat akibat marah, maka sebaiknya orang tersebut tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan disesalinya kemudian. Imam Ali as telah memerintahkan sabar sebagai alat untuk menekan marah dan juga untuk menghindarkan akibat-akibatnya. Sehingga berhati-hatilah terhadap kejahatan amarah dan berlindunglah dirimu dengan sifat sabar agar dapat menghadapinya. Kuncinya, kita harus selalu belajar bagaimana mengendalikan kemarahan dalam berbagai kondisi. Dari sini, insya Allah kita akan menangkap hikmah di balik perintah Allah Swt tersebut. Wallahu’alam.***
Daftar Inspirasi
Arda Dinata, AMKL. “Dasar Watak Manusia.” Bandung: Tabloid Hikmah, Edisi Minggu I-Pebruari 1999.
Arda Dinata. “Efek Negatif CO di Udara.” Jakarta: Tabloid Kiat Sehat No. 138.
Drs. Karman. “Mengendalikan Amarah.” Bandung: Gema Mujahidin, Edisi 54 Tahun VII/1422 – 14 September 2001 M.
Jaudah Muhammad Awwad. “Manhajul Islam fit tarbiyatul Athfal” (Terjemahan). Jakarta: GIP, Juni 2001.
Muhammad Usman Najati. “Al Qur’an wa ilm an-nafas” (Terjemahan). Jakarta: Aras Pustaka, Maret 2002.
Sayyid Mujtaba Musawi Lari. “Youth and Moral” (Terjemahan). Bandung: Pustaka Hidayah, Maret 1993.
Sintha Ratnawati (Ed). “Keluarga, Kunci Sukses Anak.” Jakarta: Penerbit Kompas, Oktober 2000.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Manusia merupakan makhluk multidimensional, karena keberadaannya didukung oleh beberapa unsur. Atas izin Allah Swt, diciptakan wujud manusia dari empat unsur (yaitu air, api, angin dan tanah) sehingga dunia ini penuh liku-liku kehidupan. Ada penjarahan, kekerasan, peperangan, permusuhan, persahabatan, perdamaian, kemarahan, dan lainnya.
Adanya unsur api dalam wujud manusia, maka timbul amarah yang siap menghiasi setiap perilaku manusia. Unsur api ini, konkretnya berupa telinga. Dengan telinga, orang bisa mendengar. Artinya, seseorang menjadi tersinggung dan marah, biasanya karena mendengar sesuatu yang tidak dikehendakinya. Bisa karena cemoohan, pelecehan, celaan, makian, dan sindiran yang menyakitkan hatinya.
Sebaliknya, seseorang menjadi lembut hatinya, baik budi pekertinya, dan berkurang amarahnya, jika mendengar kata-kata yang baik, sopan santun, rendah hati, dan menyenangkan. Bukankah api akan padam bila disiram air?
Dalam bahasa lain, marah itu bersumber dari setan. Karena setan terbuat dari api, sehingga pada saat seseorang marah maka hawa setan akan terasa wujudnya. Yakni dengan adanya hawa panas seperti api.
Konsekuensi dari keberadaan amarah dalam diri seseorang itu memiliki dua kemungkinan. Pertama, marah yang tidak terkendali akan melahirkan perbuatan merusak, sebagaimana api yang tidak terkendali akan meluluhlantahkan benda apapun yang dapat disentuhnya. Realitasnya, marah bisa merusak kehidupan dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Kedua, marah merupakan suatu emosi yang mempunyai fungsi penting bagi manusia. Yakni membantu dalam menjaga diri. Ketika seseorang sedang marah, maka tenaganya seharusnya untuk melakukan upaya keras yang memerlukan otot, semakin bertambah.
Dalam arti lain, pada saat emosi marah dan emosi-emosi lainnya sedang berlangsung, akan timbul perubahan fisiologis, antara lain keluarnya hormon adrenalin yang berpengaruh terhadap hati, dan membantunya mengeluarkan zat gula dalam jumlah yang berlebihan, sehingga tenaga dalam tubuhnya makin kuat. Dalam kondisi demikian, orang tersebut akan mampu melakukan kerja berat yang dituntut oleh pertahanan diri, ketika sedang marah, atau lari pada saat ketakutan.
Pentingnya Mengendalikan Marah
Pada saat emosi marah menguasai diri seseorang, maka akan terjadi ketidak seimbangan pikiran manusia. Yakni kemampuannya untuk berpikir sehat akan hilang. Atas alasan seperti itulah, barangkali kenapa Sayyid Mujtaba M.L. mengungkapkan bahwa kejahatan merupakan perwujudan dari kepribadian yang tidak seimbang. Ketika seorang individu kehilangan pengawasan atas akalnya, maka ia juga akan kehilangan kendali atas kehendak dan dirinya sendiri. Manusia tersebut tidak hanya lepas dari kendali akal, tetapi juga kehilangan perannya sebagai unsur yang produktif dalam kehidupan dan pada gilirannya berubah menjadi makhluk sosial yang berbahaya.
Lebih jauh digambarkan Sayyid, amarah mengubah manusia laksana sungai kecil yang mengalir di antara gunung-gunung yang tinggi sehingga menciptakan suara-suara bising. Manusia mulia yang memiliki keunggulan moral adalah laksana sungai besar yang mengalir di antara rawa-rawa dan bermuara di laut tanpa menimbulkan gelombang.
Adanya sifat buruk berupa marah, tentu membutuhkan kehendak yang kuat untuk mencegahnya mempengaruhi jiwa. Jika tidak, ia dapat memaksa seorang individu untuk membuat keputusan di bawah tekanan. Sehingga keberadaannya dapat menuntun manusia ke dalam nasib yang tidak menentu, lagi merugi.
Berikut ini ada beberapa alasan, mengapa seorang individu dianggap penting untuk mengendalikan marah dalam kehidupan kesehariannya, yaitu: Pertama, marah menyebabkan tercela. Timbulnya sikap marah ini, biasanya akan melahirkan suatu perasaan menyesal setelah marahnya berhenti.
Dalam hal ini, Dr.Mardin telah menguraikan bahwa seseorang yang sedang marah, apapun alasannya akan menyadari ketidak berartian hal itu segera setelah ia tenang, dan dalam kebanyakan kasus ia akan merasa harus meminta maaf kepada mereka yang telah ia hina. Jika anda membiasakan diri untuk mengakui ketidakgunaan amarah tatkala ia muncul, maka anda dapat mengurangi tingkatan dari berbagai akibat yang tidak diinginkan. Untuk itu, tepatlah apa yang dikatakan Imam Ja’far Ash-Shadiq as, yaitu ”Hindarilah amarah, karena hal itu akan menyebabkan kamu tercela.”
Kedua, marah dapat membinasakan hati. Marah itu tidak lain merupakan salah satu penyakit hati yang kalau dibiarkan akan dapat merusak diri secara keseluruhan. Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata, “Amarah membinasakan hati dan kebijaksanaan, barangsiapa yang tidak dapat menguasainya, maka ia tidak akan dapat mengendalikan pikirannya.”
Ketiga, marah dapat merubah fungsi organ tubuh. Berkait dengan ini, Dr.Mann menyebutkan bahwa berdasarkan penyelidikan ilmiah mengenai pengaruh fisiologis akibat kecemasan (baca: marah-Pen) telah mengungkapkan adanya berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah. Hormon adrenalin dan hormon-hormon lainnya menyalakan bahan bakar pada saat marah muncul.
Keempat, marah akan ‘mempercepat kematian.’ Amarah dan kekecewaan yang terjadi pada seseorang akan mempengaruhi atas kualitas kesehatannya. Menurut para ahli kesehatan, amarah dapat menyebabkan kematian secara mendadak jika hal itu mencapai tingkat kehebatan tertentu.
Dalam hal ini, Dr.Mardin mengungkapkan, “Apakah mereka yang memiliki hati lemah menyadari bahwa beberapa kekecewaan dapat mengorbankan hidupnya? Mereka mungkin tidak mengetahui, tetapi harus disadari bahwa banyak individu yang sehat menjadi korban akibat amarah yang hebat, sehingga ia mati oleh serangan jantung. Amarah juga dapat berakibat hilangnya nafsu makan serta mengganggu otot dan syaraf selama berjam-jam atau berhari-hari. Amarah, secara merugikan, mempengaruhi seluruh fungsi spiritual dan tubuh. Bahkan amarah seorang ibu yang sedang menyusui dapat mengakibatkan peracunan yang berbahaya terhadap air susunya.”
Imam Ali as pernah berkata, “Barangsiapa yang tidak dapat menahan amarahnya, maka akan mempercepat kematian.”
Kiat Mengendalikan Marah
Sungguh indah, manakala setiap kita dapat mengendalikan marah, karena sifat marah ini menurut Imam Ali as, awalnya adalah ketidakwajaran dan akhirnya penderitaan. Amarah itu ibarat api yang mengamuk. Barangsiapa dapat mengendalikannya, berarti ia memadamkan api itu dan barangsiapa membiarkannya, berarti dia yang pertama kali terbakar.
Secara umum, ada beberapa kiat untuk mengendalikan diri ketika marah. Seperti yang diungkap Drs. Karman, ada empat kiat yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan marah. Pertama, bila anda sedang marah maka hendaklah membaca “ta’awwudz” (mohon perlindungan) kepada Allah Swt, sebab pada hakekatnya perasaan marah yang tidak terkendali adalah dorongan setan. Nabi Saw bersabda, “Apabila salah seorang diantaramu marah maka katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Allah,’ maka marahnya akan menjadi reda.” (HR. Abi Dunya).
Kedua, bila anda sedang marah maka berusahalah untuk diam atau tidak banyak bicara, sebagaimana sabda Nabi Saw, “Apabila salah seorang diantara kamu marah maka diamlah.” (HR. Ahmad).
Ketiga, bila anda sedang marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, bila duduk masih marah maka berbaringlah. Hal tersebut ditegaskan oleh Nabi Saw, “Marah itu dari setan, maka apabila salah seorang di antaramu marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, dan apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah.” (HR. Asy-Syaikhany).
Keempat, bila upaya ta’awwudz, diam, duduk, dan berbaring tidak mampu mengendalikan amarah anda, maka upaya terakhir yang bisa dilakukaan adalah dengan cara berwudhu atau mandi. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seorang di antaramu marah maka berwudhulah atau mandilah.” (HR. Ibnu Asakir, Mauquf).
Berikut ini, ada beberapa lahan dan tatanan pengendalian marah dalam berbagai kondisi kehidupan keseharian yang seharusnya dapat kita kendalikan, diantaranya adalah:
1. Pengendalian Marah dalam Keluarga.
Kehidupan dalam keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak itu sangat berpeluang untuk tercetusnya emosi marah. Penyebabnya, bisa macam-macam. Mulai dari yang sepele sampai yang serius dan rumit. Sebenarnya marah adalah reaksi emosional yang sangat wajar, seperti juga perasaan takut, sedih dan rasa bersalah. Hanya biasanya kemarahan itu memunculkan dampak langsung yang lebih merusak.
Menurut Heman Elia, seorang psikolog, menuntut agar anak tidak marah bukan saja tidak realistis, namun juga kurang sehat. Anak yang kurang mampu memperlihatkan rasa marah dapat menderita cacat cukup serius dalam hubungan sosialnya kelak. Ia mungkin tampak seolah tidak memiliki daya tahan atau kekuatan untuk membela diri dalam menghadapi tekanan sosial. Akibatnya, ia mudah terpengaruh dan mudah menjadi obyek manipulasi orang lain.
Secara demikian, kita harus bersikap bijaksana dalam menyikapi kemarahan seorang anak. Caranya yaitu dengan membantu anak untuk menyatakan kemarahan secara wajar dan proposional. Heman Elia, menyarankan dalam mengajar anak mengungkapkan kemarahan haruslah dimulai sedini mungkin. Terutama sejak anak mulai dapat berkata-kata. Kuncinya adalah agar anak menyatakan kemarahan dalam bentuk verbal.
Sementara itu, manakala seorang anak kecil merasa kecewa tanpa anda memarahinya dengan kasar, maka menurut Dr.Victor Pashi, anda dapat menekan amarah tersebut dengan memandikannya menggunakan air dingin atau menyelimutinya dengan kain lembab atau basah.
Lebih dari itu, Jaudah Muhammad Awwad, dalam Mendidik Anak Secara Islam, mengungkapkan bahwa pada anak, faktor pemicu kemarahan lebih berkisar pada pembatasan gerak, beban yang terlalu berat dan di luar kemampuan anak, penjauahan anak dari sesuatu yang disukainya, atau pemaksaan kepada anak untuk mengikuti tradisi atau sistem yang ditetapkan.
Oleh sebab itu, Jaudah menyarankan ada beberapa hal yang patut kita perhatikan dalam mengatasi kemarahan yang timbul pada anak-anak kita, diantaranya adalah:
· Tidak membebani anak dengan tugas yang melebihi kemampuannya. Kalaupun tugas itu banyak atau pekerjaan yang diluar kemampuannya itu harus diberikan, kita harus memberikannya secara bertahap dan berupaya agar anak menerimanya dengan senang.
· Ciptakan ketenangan anak karena emosi yang dipancarkan anggota keluarga, terutama ayah dan ibu, akan terpancar juga dalam jiwa anak-anak.
· Hindarkan kekerasan dan pukulan dalam mengatasi kemarahan anak karena itu akan membentuk anak menjadi keras dan cenderung bermusuhan.
· Gunakan cara-cara persuasif, lembut, kasih-sayang, dan pemberian hadiah.
· Ketika anak kita dalam keadaan marah, bimbinglah tangannya menuju tempat wudhu dan ajaklah dia berwudhu atau mencuci mukanya. Jika dia marah sambil berdiri, bimbinglah agar dia mau duduk.
Adapun upaya pengendalian amarah dalam hubungan suami-istri, sebenarnya lebih ditekankan pada bagaimana mengendalikan ego masing-masing. Kunci utama dalam mencegah munculnya amarah di antara suami-istri ini adalah berusaha dengan membangun terciptanya iklim keterbukaan dan kasih sayang di antara keduanya. Begitu pula halnya dengan anggota keluarga lainnya, seperti dengan anak-anak.
Dan ketika salah satu pihak (terpaksa) marah, maka hendaknya pihak lainnya harus mampu untuk menggekang keinginan membalas kemarahannya. Sikap kita lebih baik diam. Karena diam ketika suasana marah merupakan upaya yang efektif dalam mengendalikan amarah agar keburukannya tidak menyebar ke lingkungan sekitarnya.
2. Pengendalian Marah dalam Lingkungan Kerja.
Kualitas kerja yang dihasilkan seseorang, memang terkait erat dengan situasi dan kondisi lingkungan kerjanya. Begitu juga berkait tercetusnya kemarahan pada orang di tempat kerja, bisa diakibatkan oleh lingkungan kerja yang buruk.
Salah satu yang sering menjadi penyebab timbulnya emosi marah di lingkungan kerja, diantaranya adalah suasana bising dan tidak menyenagkan, adanya persaingan yang tidak sehat di antara pekerja, hubungan yang tidak harmonis antara pimpinan dan bawahan, dan lainnya.
Untuk itu, upaya pengendalian marah dalam lingkungan kerja yang pertama mesti kita ciptakan adalah berupa lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan. Kemudian buat peraturan yang membikin para pekerja berperilaku kondusif dalam menjalankan tugasnya dan menjalin hubungan baik dengan sesama teman maupun pimpinannya. Dan yang tidak kalah penting juga adalah isilah pikiran dan hati kita dengan tidak terlepas dari mengingat Allah sebanyak-banyaknya dikala bekerja, serta memohon agar dilindungi dari segala tipu daya godaan setan. Yakni dengan membangun kebersihan hati dari hal-hal yang mengotorinya.
3. Pengendalian Marah dalam Lingkungan Tetangga.
Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita. Sehingga apa-apa yang dilakukan dan terjadi pada tetangga, biasanya kita lebih banyak mengetahuinya daripada saudaranya yang jauh tempat tinggalnya. Begitu pula sebaliknya, apa yang terjadi pada kita maka tetangga pun akan lebih dulu mengetahuinya daripada saudara kita yang jauh. Kondisi demikian, tentu sangat berpotensi terhadap munculnya emosi marah karena sesuatu hal yang dilihat dan didengarnya dari tetangga.
Untuk itu, langkah tepat dalam mengendalikan marah di lingkungan tetangga adalah dengan berusaha menjaga hati kita dari hal-hal yang merusaknya. Karena faktor inilah biasanya sebagian besar sebagai pemicu terjadinya marah antar tetangga. Langkah selanjutnya bisa dengan membangun dan mengembangkan tatanan silaturahmi di antara tetangga kita. Melalui silaturahmi inilah, kita dapat memahami karakter dan kebiasaan masing-masing anggota keluarga tetangga tersebut. Sehingga kita dapat menghindari terhadap sesuatu yang dapat menyebabkan munculnya emosi marah di antara tetangga.
4. Pengendalian Marah dalam Berkendaraan di Jalan Raya.
Pada saat berkendaraan di jalan raya, seseorang bisa saja menjadi marah oleh kondisi kendaraan yang mengganggunya atau terjadinya macet, perilaku pengguna kendaraan lain yang tidak sopan, suara bising, udara panas, dan lainnya. Yang jelas, berdasarkan hasil penelitian para ahli kesehatan menyebutkan bahwa keadaan marah-marah (emosinya meningkat) dari orang-orang yang (berkendaraan) di jalan raya, diantaranya disebabkan oleh saking seringnya mereka bergelut dengan asap kendaraan bermotor (baca: karena menghirup gas CO), apalagi keadaan ini lebih diperburuk oleh situasi lalu lintas yang semrawut (tidak beraturan). Lingkungan demikianlah salah satu penyebab kenapa seseorang di jalan raya kuantitas emosionalnya menjadi lebih meningkat.
Ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan timbulnya emosi marah dalam berkendaraan di jalan raya ini, diantaranya yaitu dengan selalu menyempurnakan ikhtiar berupa menjaga etika mentaati peraturan di jalan raya. Kita hendaknya selalu berdoa agar mendapat perlindungan dan terbebas dari gangguan setan. Menjaga hati dengan tidak mengotori ucapan saat berkendaraan serta hendaknya kita selalu tebarkan senyum dan salam terhadap sesama pengguna jalan. Dan juga tambatkan hati kita dengan selalu mengingat (dzikir) kepada Allah Swt.
5. Pengendalian Marah dalam Proses Belajar.
Proses belajar merupakan aktivitas keseharian dari orang-orang yang sedang menuntut ilmu, baik formal maupun non formal. Dalam aktivitas belajar ini, emosi marah muncul biasanya disebabkan oleh beberapa faktor yang berhubungan langsung ataupun tidak langsung dengan kegiatan belajar. Bisa karena tugas yang menumpuk, kesulitan mengerjakan soal ujian, ketahuan menyontek, membolos, buruk sangka kepada teman, kegiatan rutinitas belajar itu sendiri, dan lainnya.
Alternatif yang bisa kita lakukan dalam usaha mengendalikan emosi marah pada saat proses belajar, diantaranya adalah dengan membiasakan diri berperilaku jujur bahwa kita harus belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal hidup di dunia dan akherat nanti.
Tanamkan dalam diri kita bahwa segala aktivitas yang diberikan dalam proses belajar itu, tidak lain merupakan sesuatu yang harus dinikmati dan sebagai jalan bagi pendewasaan atau kesuksesan kita sendiri di kemudian hari. Dan jauhkan sikap kotor hati terhadap pihak-pihak yang bersentuhan/ berhubungan dengan proses belajar yang kita lakukan.
Sedangkan berkait dengan timbulnya marah akibat kebosanan rutinitas proses belajar, kiranya patut kita coba dan lakukan apa yang disarankan oleh Dr.C.Robbin, bahwa kebersihan tubuh memiliki pengaruh yang baik terhadap tingkah laku (baca: proses belajar-Pen). Mandi menggunakan air hangat setiap pagi dan sore selain dapat menghilangkan kebosanan. Mandi dengan air hangat juga dapat menekan amarah yang mungkin timbul oleh kebiasaan (rutinitas) sehari-hari. Oleh sebab itu kita dapat memberikan penekanan akan pentingnya hal itu bagi tubuh dan pikiran.
Akhirnya, ketika seseorang tidak dapat berpikir sehat akibat marah, maka sebaiknya orang tersebut tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan disesalinya kemudian. Imam Ali as telah memerintahkan sabar sebagai alat untuk menekan marah dan juga untuk menghindarkan akibat-akibatnya. Sehingga berhati-hatilah terhadap kejahatan amarah dan berlindunglah dirimu dengan sifat sabar agar dapat menghadapinya. Kuncinya, kita harus selalu belajar bagaimana mengendalikan kemarahan dalam berbagai kondisi. Dari sini, insya Allah kita akan menangkap hikmah di balik perintah Allah Swt tersebut. Wallahu’alam.***
Daftar Inspirasi
Arda Dinata, AMKL. “Dasar Watak Manusia.” Bandung: Tabloid Hikmah, Edisi Minggu I-Pebruari 1999.
Arda Dinata. “Efek Negatif CO di Udara.” Jakarta: Tabloid Kiat Sehat No. 138.
Drs. Karman. “Mengendalikan Amarah.” Bandung: Gema Mujahidin, Edisi 54 Tahun VII/1422 – 14 September 2001 M.
Jaudah Muhammad Awwad. “Manhajul Islam fit tarbiyatul Athfal” (Terjemahan). Jakarta: GIP, Juni 2001.
Muhammad Usman Najati. “Al Qur’an wa ilm an-nafas” (Terjemahan). Jakarta: Aras Pustaka, Maret 2002.
Sayyid Mujtaba Musawi Lari. “Youth and Moral” (Terjemahan). Bandung: Pustaka Hidayah, Maret 1993.
Sintha Ratnawati (Ed). “Keluarga, Kunci Sukses Anak.” Jakarta: Penerbit Kompas, Oktober 2000.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Memulai dari Diri Sendiri
Oleh: ARDA DINATA
PERILAKU mulai dari diri sendiri merupakan sesuatu yang mudah dan aman dilakukan setiap orang, daripada perilaku menyuruh kepada orang lain. Memulai dari diri sendiri, juga berarti ia memiliki inisiatif yang tepat, sebelum memproyeksikannya kepada orang lain.
Budaya mulai dari diri sendiri (inisiatif) ini, bukankah merupakan perintah Allah SWT yang mesti dilakukan oleh setiap muslim? Dalam surat Ali Imran, ayat 102, Allah menuntun kita untuk beramal secara pribadi mendahului perintah beramal secara jamaah (koletif). Lagian, budaya inisiatif akan menuju pada muara kemandirian seseorang. Tugas kita adalah membangun kemandirian personal terlebih dahulu, baru disusul dengan kemandirian komunitas.
Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan ini akan berakhir dalam dua kondisi. Mati dalam keadaan Islam atau mati selain Islam. Dan modal pertama yang mesti kita gali, cari dan aplikasikan adalah taqwa kepada Allah.
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai, ….” (QS. Ali Imran: 103). Ayat ini menyadarkan kita bahwa dalam kehidupan ini, ada yang mesti dilakukan dan diselesaikan secara sendiri-sendiri, dan ada juga di pihak lain untuk menunaikan tugas-tugas besar yang tidak bisa diselesaikan sendiri, kecuali hanya bisa dilakukan secara bersama-sama (baca: komunitas umat).
Kebiasaan inisiatif ini akan melahirkan orang-orang yang prosfektif dalam memulai terlebih dulu dari dirinya sendiri melakukan amal-amal kebaikan. Walaupun dirinya tidak disuruh oleh siapa pun, atau kondisi lingkungan yang tidak kondusif. Tapi, dengan mulai dari diri sendiri, maka ia akan memberi warna kehidupan pada lingkungannya. Bagaikan sebuah batu yang dilemparkan dalam air. Ia akan membentuk riak-riak kecil-besar-sampai tak terhingga. Itulah gambaran pancaran kebaikan dari pribadi orang beriman yang memulai dari diri sendiri. Perilaku ini, memang diperlukan oleh setiap orang sebagai prasyarat kesuksesan dirinya. Artinya biasakanlah setiap saat kita melakukan perbaikan diri, memulailah dari hal-hal kecil secara terus menerus, dan lakukanlah hal itu sesegera mungkin.
Berikut ini, ada beberapa ruang lingkup tentang memulai dari diri sendiri yang semestinya dilakukan setiap manusia, sebagai penjelmaan dirinya atas predikat kekhalifahaannya di muka bumi.
1. Memulai dalam hal keteladanan
Teladan itu diartikan sebagai sesuatu (perbuatan, barang, dsb) yang patut ditiru. Kita yakin, setiap orang akan merasa bahagia, seandainya pribadinya dapat menjadi contoh kebaikan bagi orang lain. Sebaliknya, ia akan bersedih bila orang mengetahui akan kejelekan dan kekurangan diri kita.
Untuk itu mulailah dari diri kita akan kebaikan. Yakni kebaikan yang dapat dicontoh dan dikenang orang lain, seperti halnya akhlak dan pribadi Rasulullah saw. Allah berfirman dalam QS. Al Ahzab, ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Berkait dengan manajemen diri ini, Allah juga menuntun kita seperti dalam QS. (59): 18, “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Setiap kita bebas melakukan apa saja. Tapi, bagi orang beriman perbuatan kita saat ini akan berproyeksi dalam kehidupan di akherat nanti. Untuk itu, jadilah yang terbaik, seorang yang teladan dalam kebaikan. Misalnya, orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya, guru menjadi teladan bagi murid-muridnya, dll. Singkatnya, kita selalu berusaha menyandang predikat keteladanan ini berawal dari diri sendiri.
Berkait dengan itu, Rasulullah berkata, “Ibda’ binafsik!”, mulailah dengan dirimu. Dan Allah memerintahkan kepada kita, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu, dan keluargamu dari api neraka,…..” (QS. 66: 6). Ayat ini, berarti permulaan perintah ditunjukan kepada diri sendiri, kemudian disusul kepada keluarga terdekat. Dalam konteks ini, berarti mulailah keteladanan itu dari diri sendiri sebelum beranjak kepada orang lain.
Realisasi keteladanan itu seperti dipraktekkan oleh Abu Bakrah, sahabat Rasulullah saw., yaitu: Dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwa ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengar engkau setiap pagi berdo’a: Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allaahumma ‘aafinii fii basharii, wa laa ilahaa illa anta (Ya Allah, sehatkanlah badanku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tiada tuhan kecuali Engkau) yang engkau ulang tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada sore hari.” Ia menjawab: “Sungguh aku telah mendengar Rasulullah saw. berdoa dengan kata-kata ini. Oleh karena itu, aku senang mengikuti Sunnahnya …..” (HR. Abu Dawud).
Hadits tersebut, jelas-jelas membuktikan bahwa seorang anak mencontoh ayahnya itu, bukan dengan perkataan yang diucapkan langsung kepada anaknya. Tapi, ia dilakukan dengan perbuatan dan teladan dari ayahnya sehari-hari. Jelasnya, anak-anak itu, lebih mementingkan perilaku dan tindakan orang tuanya daripada perkataan-perkataannya. Lalu, mengapa kita tidak segera memulai keteladanan kebaikan itu, dari kita sendiri?
2. Memulai dalam hal keilmuan
Ilmu adalah sesuatu yang berharga dalam hidup ini. Dengan ilmu, orang dapat “sukses hidup” di dunia dan akherat. Pokoknya, ilmu merupakan modal dasar yang mesti kita cari dan cari sampai ajal menjemputnya. Orang untuk mencapai predikat teladanan juga perlu ilmu. Allah sendiri berjanji akan meninggikan derajatnya bagi mereka yang beriman dan berilmu. Allah berfirman, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11).
Seseorang untuk mendapatkan ilmu, tidak dengan cara berdiam diri dan menutup hati terhadap ilmu yang ada pada sekitar kita. Tapi, justru untuk mendapatkan ilmu itu, lebih banyak ditentukan dari ketekunan dan kesabaran kita. Banyak contoh yang membuktikan hal ini. Yang jelas, kunci pembuka ilmu tidak lain adalah membaca dan membaca, kemudian merenunginya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, Abu Darda’ benar-benar seseorang yang mengkuduskan ilmu dengan setinggi-tinggi kedudukan, disucikannya selaku ia seorang ’abid. Perhatikanlah ungkapannya tentang ilmu: “Orang tidak mungkin mencapai tingkat muttaqin, apabila tidak berilmu, apaguna ilmu, apabila tidak dibuktikan dalam perbuatan.” Ilmu bagi Abu Darda’ ialah pengertian dari hasil penelitian, jalan dalam mencapi tujuan, ma’rifat untuk membuka tabir hakikat, landasan dalam berbuat dan bertindak, daya fikir dalam mencari kebenaran dan motor kehidupan yang disinari iman, dalam melaksanakan amal bakti kepada Allah ar-Rahman.
Untuk itu, kita bisa belajar banyak pada para ulama dan tokoh-tokoh panutan Islam lainnya. Baik kehidupan kesehariannya atau lebih-lebih mengenai ilmu-ilmunya. Seperti Asy-Syafi’i rahimahullah, seorang yang ahli ibadah dan membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk tidur. Jadi, betapa pentingnya ilmu dalam hidup Asy-Syafi’i.
Kalau kita lihat dari segi akal, nampak jelas bahwa ilmu itu sesuatu yang utama, karena dengan ilmu manusia sampai kepada Allah dan menjadi dekat dengan-Nya. Dan sebaik-baik ilmu yang kita cari dan pelajari adalah ilmu yang dapat mendekatkan diri terhadap-Nya.
Pribadi seperti itu, akan memperoleh kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang kekal. Ilmu (agama Islam) itu mengantar kemuliaan seseorang di dunia dan di akherat. Dunia ini adalah tanaman akherat yang perlu benar-benar kita gali, bina dan pelihara. Maka, para orang alim itu dengan ilmunya menanam bagi dirinya kebahagiaan abadi dengan mendidik akhlaknya sesuai dengan tuntutan ilmu.
Apakah saudara tidak ingin amal yang diperbuat di dunia ini, amalnya tidak pernah putus, walaupun kita telah tiada? Seperti hadits berikut: “Jika manusia telah meninggal dunia maka putuslah amalnya, kecuali tiga macam: sedekah jariah (yang tahan lama); ilmu yang bermanfaat; dan anak shaleh (berakhlak baik) yang mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim). Inilah manfaat memulai dari diri sendiri dalam hal mencari ilmu.
3. Memulai dalam hal dakwah
Kegiatan dakwah adalah kewajiban atas setiap muslim. Walau satu ayat sekali pun, kita berkewajiban untuk berdakwah kepada orang lain. Selain itu, kita pun dituntut untuk melakukan kebajikan dan melarang berbuat keji, kemungkaran serta permusuhan (QS. 16: 90).
Tuntutan berdakwah ini, jelas-jelas harus kita mulai dari diri sendiri sebelum menyuruh (dakwah) kepada orang lain. Itulah sebaik-baik dakwah. Artinya, antara perkataan (isi dakwah) dengan perbuatannya adalah sejalan. Tepatnya, memperbaiki diri sebelum berdakwah. Lalu, mulai dari diri sendiri, anggota keluarga, dan kemudian baru pada lingkungan yang lebih luas lagi.
Perilaku memulai dari diri sendiri dalam hal dakwah ini, kita dapat mencontoh dari Umar bin Khattab r.a. Yakni perilaku Beliau setiap kali akan menyerukan perintah dan larangan kepada umatnya, selalu mengumpulkan anggota keluarganya dan berkata kepada mereka, “Aku akan menyeru orang-orang berbuat ini dan itu. Aku bersumpah, janganlah sampai aku menerima kabar bahwa salah seorang dari kalian meninggalkan perintahku atau melanggar laranganku. Kalau itu terjadi, pasti aku akan menindak kalian dengan keras.” Setelah itu, ia keluar dan menyerukan perintah dan larangan kepada segenap umat, dan tidak seorang pun berani melanggarnya.
Adapun keutamaan dalam dakwah dan kerugian akibat meninggalkan dakwah adalah seperti tersyirat dalam QS. (7): 165, “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” Selain dari itu, kita juga akan mendapatkan balasan yang besar dari Allah SWT, seperti hadits Rasulullah saw. yang menyatakan: “Sungguh jika seseorang mendapat hidayah dengan tangan engkau (dakwah engkau), maka itu lebih baik dari onta merah”. Dari hadits lain disebut “….. lebih baik dari dunia dan seluruh isinya.” Sungguh luar biasa balasan dari Allah ini, maka mulailah berdakwah dari diri sendiri, sebelum mendakwahi/didakwahi orang lain.
4. Memulai dalam hal ekonomi
Berusaha memenuhi kebutuhan bidang ekonomi adalah sesuatu yang telah dianjurkan-Nya. Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan kamu sekalian untuk senantiasa berbuat/ berusaha, maka berusahalah!” (HR. Bukhari). Namun yang perlu diwaspadai, adalah jangan sampai ekonomi yang kita cari dan dapat itu melupakan bekal kita untuk akherat kelak. Allah SWT berfirman, “Dan carilah, dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, bekal buat kepentingan hidup di akherat, dengan ketentuan jangan terlantarkan kepentingan hidupmu di dunia ini, berbuatlah dengan cara yang ihsan sebagaimana Allah senantiasa berbuat ihsan kepadamu…“ (QS. 28: 77). Di sini, penekanannya pada proyeksi untuk akherat, tapi tidak menyengsarakan kehidupan di dunia.
Inisiatif berusaha dan kemandirian ekonomi merupakan sesuatu yang mesti kita mulai dari setiap orang. Semakin kita banyak mengandalkan kebutuhan ekonomi kepada orang lain, maka saip-siap kita untuk “dikecewakannya”. Untuk itu, mulailah bagun perekonomian kita dan kokohkan kekuatannya dari pengaruh pihak lain.
Saat ini, begitu banyak perusahaan-perusahaan yang katanya “besar”, ternyata ia tidak mampu menghadapi terpaan berbagai krisis. Dan justru, perusahaan-perusahaan perekonomian rakyat ---skala kecil dan menengah---berbasis modal sendiri yang mampu bertahan diterpa badai krisis saat ini. Lebih-lebih ia mengaktualisasikan sistem perekonomian Islam dalam usaha yang dibangunnya.
Melalui nikmat krisis ini, barangkali Allah memperlihatkan kepada orang-orang yang mau berpikir bahwa perekonomian yang tidak berdasarkan ajaran Islam dengan sendirinya akan hancur. Dan sebaliknya yang menerapkan sistem perekonomian Islam, pertumbuhan ekonominya akan meningkat dan tidak terjadi kesenjangan sosial. Hal ini seperti yang terjadi di Kelantan, Negeri bagian Malaysia. Jadi, amatlah benar sistem syariah Islam menjadikan manusia dalam keadaan yang sebenarnya dan menerangkan kepadanya lapangan kehidupan, agar ia meningkat dan memperoleh kehidupan yang mulia.
Untuk itu, bangunlah sejak dini dan memulai dari diri sendiri sifat kemandirian ekonomi ini. Artinya dalam skala minimal, berusahalah untuk mencukupi diri sendiri, agar tidak menjadi beban orang lain. Dan dalam skala makro, kita menjadi solusi dari masalah ekonomi, bukan menjadi sumber masalah ekonomi orang lain. Nabi saw mengatakan tidak ada makanan yang lebih baik, dari makanan yang diperoleh dari hasil tangannya sendiri. Lagian, bukankah kita dituntut harus kuat dalam ekonomi sesuai kemampuan masing-masing?
Allah berfirman, “Katakanlah (ya Muhammad kepada umatmu) hendaknya kamu semua bekerja/ berbuat menurut keahlian (profesi) masing-masing; bahwa Allah pasti mengetahui siapa di antara kamu yang berusaha pada jalan yang baik.” (QS. 17: 84).
5. Memulai dalam hal menjaga lingkungan hidup
Lingkungan hidup diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Jadi, posisi keselamatan lingkungan hidup ini, tentu memiliki porsi besar dalam menentukan kelangsungan kehidupan manusia di muka bumi ini. Lantas, sudahkan kita ikut menjaga dan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup di sekitar kita?
Pertanyaan itu sengaja diungkap. Pasalnya, betapa memprihatinkannya kondisi lingkungan hidup di Indonesia belakangan ini. Yang jelas, pengelolaan lingkungan hidup berdasar pendekatan Atur—Dan—Awasi (ADA) dengan Undang-Undang lingkungan yang pidananya telah diperberat di negera kita itu, ternyata tak mampu mengurangi tindak pidana perusakan lingkungan hidup. Sebagai contoh kasus, korek api, sering dijadikan teknologi pembukaan lahan yang sangat murah, maka terjadilah kebakaran dan hutan gundul. Aliran sungai adalah juga termasuk teknologi paling murah untuk mengangkut sampah, bahkan masyarakat mengatakan gratis. Tapi, perilaku semua itu akan berdampak pada diri kita semua. Terjadilah bencana banjir dan tanah longsor di mana-mana. Itulah buah yang kita petik dari perilaku tidak ramah lingkungan.
Pantas saja Allah mengingatkan kita dalam QS. Ar-Ruum: 41, yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Oleh karena itu, dengan gagalnya pendekatan ADA, menurut pakar lingkungan hidup Unpad Bandung, Otto Soemarwoto, dalam pengelolaan lingkungan harus diganti dengan pendekatan masyarakat mengatur sikap dan kelakuan dirinya sendiri. Yakni berupa sistem pengelolaan lingkungan hidup Atur—Diri—Sendiri (ADS). Makna ADS ini ialah tanggung jawab menjaga kepatuhan dan penegakan hukum lebih banyak di tanggung oleh masyarakat (baca: diri sendiri).
Untuk itu, mari kita mulai dari diri sendiri dalam mewujudkan perilaku yang tidak merusak lingkungan hidup. Misalnya, tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan lingkungan rumah masing-masing, tiap rumah menyediakan areal resapan untuk air hujan, dll. Bukankah Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).
Apa yang dipaparkan di atas, tidak lain hanya sebagaian kecil dari perilaku dan kebiasaan yang mesti dibangun dan dimulai dari diri sendiri dalam menjalani kehidupan yang kompleks ini. Paparan yang bisa jadi sebagai do’a itu, semoga menjadi tali-tali (kesadaran) yang mengokohkan komitmen kita untuk menjadi solusi bagi diri dan lingkungannya, dan tenunan yang menyambungkan kebersamaan antar generasi menuju kehidupan yang lebih baik serta mendapat ridho-Nya. Waallahu’alam. ***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com/.
PERILAKU mulai dari diri sendiri merupakan sesuatu yang mudah dan aman dilakukan setiap orang, daripada perilaku menyuruh kepada orang lain. Memulai dari diri sendiri, juga berarti ia memiliki inisiatif yang tepat, sebelum memproyeksikannya kepada orang lain.
Budaya mulai dari diri sendiri (inisiatif) ini, bukankah merupakan perintah Allah SWT yang mesti dilakukan oleh setiap muslim? Dalam surat Ali Imran, ayat 102, Allah menuntun kita untuk beramal secara pribadi mendahului perintah beramal secara jamaah (koletif). Lagian, budaya inisiatif akan menuju pada muara kemandirian seseorang. Tugas kita adalah membangun kemandirian personal terlebih dahulu, baru disusul dengan kemandirian komunitas.
Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan ini akan berakhir dalam dua kondisi. Mati dalam keadaan Islam atau mati selain Islam. Dan modal pertama yang mesti kita gali, cari dan aplikasikan adalah taqwa kepada Allah.
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai, ….” (QS. Ali Imran: 103). Ayat ini menyadarkan kita bahwa dalam kehidupan ini, ada yang mesti dilakukan dan diselesaikan secara sendiri-sendiri, dan ada juga di pihak lain untuk menunaikan tugas-tugas besar yang tidak bisa diselesaikan sendiri, kecuali hanya bisa dilakukan secara bersama-sama (baca: komunitas umat).
Kebiasaan inisiatif ini akan melahirkan orang-orang yang prosfektif dalam memulai terlebih dulu dari dirinya sendiri melakukan amal-amal kebaikan. Walaupun dirinya tidak disuruh oleh siapa pun, atau kondisi lingkungan yang tidak kondusif. Tapi, dengan mulai dari diri sendiri, maka ia akan memberi warna kehidupan pada lingkungannya. Bagaikan sebuah batu yang dilemparkan dalam air. Ia akan membentuk riak-riak kecil-besar-sampai tak terhingga. Itulah gambaran pancaran kebaikan dari pribadi orang beriman yang memulai dari diri sendiri. Perilaku ini, memang diperlukan oleh setiap orang sebagai prasyarat kesuksesan dirinya. Artinya biasakanlah setiap saat kita melakukan perbaikan diri, memulailah dari hal-hal kecil secara terus menerus, dan lakukanlah hal itu sesegera mungkin.
Berikut ini, ada beberapa ruang lingkup tentang memulai dari diri sendiri yang semestinya dilakukan setiap manusia, sebagai penjelmaan dirinya atas predikat kekhalifahaannya di muka bumi.
1. Memulai dalam hal keteladanan
Teladan itu diartikan sebagai sesuatu (perbuatan, barang, dsb) yang patut ditiru. Kita yakin, setiap orang akan merasa bahagia, seandainya pribadinya dapat menjadi contoh kebaikan bagi orang lain. Sebaliknya, ia akan bersedih bila orang mengetahui akan kejelekan dan kekurangan diri kita.
Untuk itu mulailah dari diri kita akan kebaikan. Yakni kebaikan yang dapat dicontoh dan dikenang orang lain, seperti halnya akhlak dan pribadi Rasulullah saw. Allah berfirman dalam QS. Al Ahzab, ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Berkait dengan manajemen diri ini, Allah juga menuntun kita seperti dalam QS. (59): 18, “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Setiap kita bebas melakukan apa saja. Tapi, bagi orang beriman perbuatan kita saat ini akan berproyeksi dalam kehidupan di akherat nanti. Untuk itu, jadilah yang terbaik, seorang yang teladan dalam kebaikan. Misalnya, orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya, guru menjadi teladan bagi murid-muridnya, dll. Singkatnya, kita selalu berusaha menyandang predikat keteladanan ini berawal dari diri sendiri.
Berkait dengan itu, Rasulullah berkata, “Ibda’ binafsik!”, mulailah dengan dirimu. Dan Allah memerintahkan kepada kita, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu, dan keluargamu dari api neraka,…..” (QS. 66: 6). Ayat ini, berarti permulaan perintah ditunjukan kepada diri sendiri, kemudian disusul kepada keluarga terdekat. Dalam konteks ini, berarti mulailah keteladanan itu dari diri sendiri sebelum beranjak kepada orang lain.
Realisasi keteladanan itu seperti dipraktekkan oleh Abu Bakrah, sahabat Rasulullah saw., yaitu: Dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwa ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku mendengar engkau setiap pagi berdo’a: Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafinii fii sam’ii, Allaahumma ‘aafinii fii basharii, wa laa ilahaa illa anta (Ya Allah, sehatkanlah badanku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tiada tuhan kecuali Engkau) yang engkau ulang tiga kali pada pagi hari dan tiga kali pada sore hari.” Ia menjawab: “Sungguh aku telah mendengar Rasulullah saw. berdoa dengan kata-kata ini. Oleh karena itu, aku senang mengikuti Sunnahnya …..” (HR. Abu Dawud).
Hadits tersebut, jelas-jelas membuktikan bahwa seorang anak mencontoh ayahnya itu, bukan dengan perkataan yang diucapkan langsung kepada anaknya. Tapi, ia dilakukan dengan perbuatan dan teladan dari ayahnya sehari-hari. Jelasnya, anak-anak itu, lebih mementingkan perilaku dan tindakan orang tuanya daripada perkataan-perkataannya. Lalu, mengapa kita tidak segera memulai keteladanan kebaikan itu, dari kita sendiri?
2. Memulai dalam hal keilmuan
Ilmu adalah sesuatu yang berharga dalam hidup ini. Dengan ilmu, orang dapat “sukses hidup” di dunia dan akherat. Pokoknya, ilmu merupakan modal dasar yang mesti kita cari dan cari sampai ajal menjemputnya. Orang untuk mencapai predikat teladanan juga perlu ilmu. Allah sendiri berjanji akan meninggikan derajatnya bagi mereka yang beriman dan berilmu. Allah berfirman, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11).
Seseorang untuk mendapatkan ilmu, tidak dengan cara berdiam diri dan menutup hati terhadap ilmu yang ada pada sekitar kita. Tapi, justru untuk mendapatkan ilmu itu, lebih banyak ditentukan dari ketekunan dan kesabaran kita. Banyak contoh yang membuktikan hal ini. Yang jelas, kunci pembuka ilmu tidak lain adalah membaca dan membaca, kemudian merenunginya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, Abu Darda’ benar-benar seseorang yang mengkuduskan ilmu dengan setinggi-tinggi kedudukan, disucikannya selaku ia seorang ’abid. Perhatikanlah ungkapannya tentang ilmu: “Orang tidak mungkin mencapai tingkat muttaqin, apabila tidak berilmu, apaguna ilmu, apabila tidak dibuktikan dalam perbuatan.” Ilmu bagi Abu Darda’ ialah pengertian dari hasil penelitian, jalan dalam mencapi tujuan, ma’rifat untuk membuka tabir hakikat, landasan dalam berbuat dan bertindak, daya fikir dalam mencari kebenaran dan motor kehidupan yang disinari iman, dalam melaksanakan amal bakti kepada Allah ar-Rahman.
Untuk itu, kita bisa belajar banyak pada para ulama dan tokoh-tokoh panutan Islam lainnya. Baik kehidupan kesehariannya atau lebih-lebih mengenai ilmu-ilmunya. Seperti Asy-Syafi’i rahimahullah, seorang yang ahli ibadah dan membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk tidur. Jadi, betapa pentingnya ilmu dalam hidup Asy-Syafi’i.
Kalau kita lihat dari segi akal, nampak jelas bahwa ilmu itu sesuatu yang utama, karena dengan ilmu manusia sampai kepada Allah dan menjadi dekat dengan-Nya. Dan sebaik-baik ilmu yang kita cari dan pelajari adalah ilmu yang dapat mendekatkan diri terhadap-Nya.
Pribadi seperti itu, akan memperoleh kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang kekal. Ilmu (agama Islam) itu mengantar kemuliaan seseorang di dunia dan di akherat. Dunia ini adalah tanaman akherat yang perlu benar-benar kita gali, bina dan pelihara. Maka, para orang alim itu dengan ilmunya menanam bagi dirinya kebahagiaan abadi dengan mendidik akhlaknya sesuai dengan tuntutan ilmu.
Apakah saudara tidak ingin amal yang diperbuat di dunia ini, amalnya tidak pernah putus, walaupun kita telah tiada? Seperti hadits berikut: “Jika manusia telah meninggal dunia maka putuslah amalnya, kecuali tiga macam: sedekah jariah (yang tahan lama); ilmu yang bermanfaat; dan anak shaleh (berakhlak baik) yang mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim). Inilah manfaat memulai dari diri sendiri dalam hal mencari ilmu.
3. Memulai dalam hal dakwah
Kegiatan dakwah adalah kewajiban atas setiap muslim. Walau satu ayat sekali pun, kita berkewajiban untuk berdakwah kepada orang lain. Selain itu, kita pun dituntut untuk melakukan kebajikan dan melarang berbuat keji, kemungkaran serta permusuhan (QS. 16: 90).
Tuntutan berdakwah ini, jelas-jelas harus kita mulai dari diri sendiri sebelum menyuruh (dakwah) kepada orang lain. Itulah sebaik-baik dakwah. Artinya, antara perkataan (isi dakwah) dengan perbuatannya adalah sejalan. Tepatnya, memperbaiki diri sebelum berdakwah. Lalu, mulai dari diri sendiri, anggota keluarga, dan kemudian baru pada lingkungan yang lebih luas lagi.
Perilaku memulai dari diri sendiri dalam hal dakwah ini, kita dapat mencontoh dari Umar bin Khattab r.a. Yakni perilaku Beliau setiap kali akan menyerukan perintah dan larangan kepada umatnya, selalu mengumpulkan anggota keluarganya dan berkata kepada mereka, “Aku akan menyeru orang-orang berbuat ini dan itu. Aku bersumpah, janganlah sampai aku menerima kabar bahwa salah seorang dari kalian meninggalkan perintahku atau melanggar laranganku. Kalau itu terjadi, pasti aku akan menindak kalian dengan keras.” Setelah itu, ia keluar dan menyerukan perintah dan larangan kepada segenap umat, dan tidak seorang pun berani melanggarnya.
Adapun keutamaan dalam dakwah dan kerugian akibat meninggalkan dakwah adalah seperti tersyirat dalam QS. (7): 165, “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” Selain dari itu, kita juga akan mendapatkan balasan yang besar dari Allah SWT, seperti hadits Rasulullah saw. yang menyatakan: “Sungguh jika seseorang mendapat hidayah dengan tangan engkau (dakwah engkau), maka itu lebih baik dari onta merah”. Dari hadits lain disebut “….. lebih baik dari dunia dan seluruh isinya.” Sungguh luar biasa balasan dari Allah ini, maka mulailah berdakwah dari diri sendiri, sebelum mendakwahi/didakwahi orang lain.
4. Memulai dalam hal ekonomi
Berusaha memenuhi kebutuhan bidang ekonomi adalah sesuatu yang telah dianjurkan-Nya. Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan kamu sekalian untuk senantiasa berbuat/ berusaha, maka berusahalah!” (HR. Bukhari). Namun yang perlu diwaspadai, adalah jangan sampai ekonomi yang kita cari dan dapat itu melupakan bekal kita untuk akherat kelak. Allah SWT berfirman, “Dan carilah, dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, bekal buat kepentingan hidup di akherat, dengan ketentuan jangan terlantarkan kepentingan hidupmu di dunia ini, berbuatlah dengan cara yang ihsan sebagaimana Allah senantiasa berbuat ihsan kepadamu…“ (QS. 28: 77). Di sini, penekanannya pada proyeksi untuk akherat, tapi tidak menyengsarakan kehidupan di dunia.
Inisiatif berusaha dan kemandirian ekonomi merupakan sesuatu yang mesti kita mulai dari setiap orang. Semakin kita banyak mengandalkan kebutuhan ekonomi kepada orang lain, maka saip-siap kita untuk “dikecewakannya”. Untuk itu, mulailah bagun perekonomian kita dan kokohkan kekuatannya dari pengaruh pihak lain.
Saat ini, begitu banyak perusahaan-perusahaan yang katanya “besar”, ternyata ia tidak mampu menghadapi terpaan berbagai krisis. Dan justru, perusahaan-perusahaan perekonomian rakyat ---skala kecil dan menengah---berbasis modal sendiri yang mampu bertahan diterpa badai krisis saat ini. Lebih-lebih ia mengaktualisasikan sistem perekonomian Islam dalam usaha yang dibangunnya.
Melalui nikmat krisis ini, barangkali Allah memperlihatkan kepada orang-orang yang mau berpikir bahwa perekonomian yang tidak berdasarkan ajaran Islam dengan sendirinya akan hancur. Dan sebaliknya yang menerapkan sistem perekonomian Islam, pertumbuhan ekonominya akan meningkat dan tidak terjadi kesenjangan sosial. Hal ini seperti yang terjadi di Kelantan, Negeri bagian Malaysia. Jadi, amatlah benar sistem syariah Islam menjadikan manusia dalam keadaan yang sebenarnya dan menerangkan kepadanya lapangan kehidupan, agar ia meningkat dan memperoleh kehidupan yang mulia.
Untuk itu, bangunlah sejak dini dan memulai dari diri sendiri sifat kemandirian ekonomi ini. Artinya dalam skala minimal, berusahalah untuk mencukupi diri sendiri, agar tidak menjadi beban orang lain. Dan dalam skala makro, kita menjadi solusi dari masalah ekonomi, bukan menjadi sumber masalah ekonomi orang lain. Nabi saw mengatakan tidak ada makanan yang lebih baik, dari makanan yang diperoleh dari hasil tangannya sendiri. Lagian, bukankah kita dituntut harus kuat dalam ekonomi sesuai kemampuan masing-masing?
Allah berfirman, “Katakanlah (ya Muhammad kepada umatmu) hendaknya kamu semua bekerja/ berbuat menurut keahlian (profesi) masing-masing; bahwa Allah pasti mengetahui siapa di antara kamu yang berusaha pada jalan yang baik.” (QS. 17: 84).
5. Memulai dalam hal menjaga lingkungan hidup
Lingkungan hidup diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Jadi, posisi keselamatan lingkungan hidup ini, tentu memiliki porsi besar dalam menentukan kelangsungan kehidupan manusia di muka bumi ini. Lantas, sudahkan kita ikut menjaga dan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup di sekitar kita?
Pertanyaan itu sengaja diungkap. Pasalnya, betapa memprihatinkannya kondisi lingkungan hidup di Indonesia belakangan ini. Yang jelas, pengelolaan lingkungan hidup berdasar pendekatan Atur—Dan—Awasi (ADA) dengan Undang-Undang lingkungan yang pidananya telah diperberat di negera kita itu, ternyata tak mampu mengurangi tindak pidana perusakan lingkungan hidup. Sebagai contoh kasus, korek api, sering dijadikan teknologi pembukaan lahan yang sangat murah, maka terjadilah kebakaran dan hutan gundul. Aliran sungai adalah juga termasuk teknologi paling murah untuk mengangkut sampah, bahkan masyarakat mengatakan gratis. Tapi, perilaku semua itu akan berdampak pada diri kita semua. Terjadilah bencana banjir dan tanah longsor di mana-mana. Itulah buah yang kita petik dari perilaku tidak ramah lingkungan.
Pantas saja Allah mengingatkan kita dalam QS. Ar-Ruum: 41, yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Oleh karena itu, dengan gagalnya pendekatan ADA, menurut pakar lingkungan hidup Unpad Bandung, Otto Soemarwoto, dalam pengelolaan lingkungan harus diganti dengan pendekatan masyarakat mengatur sikap dan kelakuan dirinya sendiri. Yakni berupa sistem pengelolaan lingkungan hidup Atur—Diri—Sendiri (ADS). Makna ADS ini ialah tanggung jawab menjaga kepatuhan dan penegakan hukum lebih banyak di tanggung oleh masyarakat (baca: diri sendiri).
Untuk itu, mari kita mulai dari diri sendiri dalam mewujudkan perilaku yang tidak merusak lingkungan hidup. Misalnya, tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan lingkungan rumah masing-masing, tiap rumah menyediakan areal resapan untuk air hujan, dll. Bukankah Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).
Apa yang dipaparkan di atas, tidak lain hanya sebagaian kecil dari perilaku dan kebiasaan yang mesti dibangun dan dimulai dari diri sendiri dalam menjalani kehidupan yang kompleks ini. Paparan yang bisa jadi sebagai do’a itu, semoga menjadi tali-tali (kesadaran) yang mengokohkan komitmen kita untuk menjadi solusi bagi diri dan lingkungannya, dan tenunan yang menyambungkan kebersamaan antar generasi menuju kehidupan yang lebih baik serta mendapat ridho-Nya. Waallahu’alam. ***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com/.
07 September 2008
Memenuhi Hasrat Nafsu Secara Proporsional
Oleh: ARDA DINATA
NAFSU diartikan sebagai keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat berupa dorongan batin untuk berbuat yang kurang baik; kemarahan; kepanasan hati. Di sini, seakan-akan kata nafsu selalu menggiring alam pikiran kita kepada konotasi yang rendah, primitif, dan negatif. Apakah hal ini memang benar seperti itu? Lalu, bagaimana konsep nafsu menurut ajaran Islam?
Dalam beberapa ayat Alquran (al Nisa’: 135; Shaad: 26; al Najm: 3; al Naazi’aat: 40; al A’raf: 176; al Kahf:: 28; Thaaha: 16; al Furqaan: 43; al Qashash: 50; al Jaatsiyah: 23), ternyata kesemua kata al hawaa (hawa nafsu) mengandung pengertian tentang sesuatu hal yang cenderung menguasai, memperbudak, melanggar batas, berbuat tidak bermoral, mencari kenikmatan sesaat dan mengakibatkan penyesalan.
Hawa nafsu memang diakui selalu mengajak kepada sesuatu yang dianggap nyaman dan nikmat, maksiat, kesia-siaan dan condong untuk memuaskan diri pada kehidupan duniawi. Tetapi, yang jelas, Allah Azza wa Jalla tidak pernah menjadikan sesuatu itu secara sia-sia. Begitu juga dengan hawa nafsu, sekalipun hawa nafsu ini selalu mengajak manusia kepada perbuatan amoral, namun dia merupakan satu-satunya perangkat bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya di dunia ini (baca: nafsu makan, minum, seksual, dll). Dan Allah sendiri selalu menekankan terhadap manusia agar takut kepada-Nya dan tidak memperturutkan hawa nafsu. Dua posisi inilah yang akan menghadapkan manusia pada ujian dan tantangan yang harus dihadapinya di dunia.
Permasalahannya, adalah bagaimana kemampuan manusia itu dengan kepandaian akalnya dapat memenuhi hasrat nafsunya secara proporsional dan sesuai kebutuhan dalam fase-fase perjalanan menuju Allah SWT.
Jenis-Jenis Nafsu
Dalam Alquran Allah SWT telah menjelaskan tentang jenis-jenis nafsu yang dimiliki manusia, yaitu Muthmainnah, Lawwamah dan Ammarah Bissu’.
Pertama, nafsu Muthmainnah. Nafsu ini tenang pada suatu hal dan jauh dari keguncangan yang disebabkan oleh bermacam-macam tantangan dan dari bisikan syaitan. Apabila nafsu tenang bersama Allah, tentram ketika mengingat-Nya, selalu merindukan-Nya dan senang ada di dekat-Nya, itulah nafsu Muthmainnah. Dialah nafsu yang di saat ajal menjelang, akan dikatakan kepadanya: “Hai nafsu (jiwa) yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).
Untuk itu, jangan dibiarkan nafsu yang selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Allah (baca: QS. 12: 53). Agar nafsu itu mendapat rahmat Allah, maka manusia harus beristiqamah/ berteguh pendirian terhadap Allah (baca: QS. 41: 30), selalu ikhlas dalam setiap amal dan selalu ingat bahwa diri ini akan kembali kepada-Nya (baca: QS. 23: 57-61), selalu beriman dan bertaqwa agar mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup (baca: QS. 10: 62-64).
Kedua, nafsu Lawwamah. Yakni nafsu yang tidak pernah konsisten atau stabil di atas satu keadaan. Ia seringkali berubah –baik pendirian/ perilaku--. Ia antara ingat dan lalai, ridha dan marah, cinta dan benci, serta taat dan berdoa kepada Allah atau bahkan berpaling dari-Nya. Jadi, nafsu ini tidak/ belum sempurna ketenangannya, karena selalu menentang atau melawan kejahatan tetapi suatu saat teledor dan lalai berbakti kepada Allah, sehingga dicela dan disesalinya.
Allah berfirman dalam Alquran surat Al Qiyaamah: 1-5, “Aku bersumpah dengan hari kiamat; dan Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah (jiwa yang menyesali dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulang?; Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun kembali jari-jarinya dengan sempurna; Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus.”
Ketiga, nafsu Ammarah Bissu’. Yaitu nafsu yang tercela, sebab ia memiliki watak selalu mengajak ke arah kezaliman. Tidak seorangpun yang terlepas dari watak buruk nafsu ini, kecuali orang yang memperoleh pertolongan Allah SWT sebagaimana kisah istri Al-Aziz, penguasa Mesir. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusup: 33).
Dan Allah pun berfirman, “Sekiranya tidak karena Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya.” (QS. An-Nur: 21). Singkatnya, nafsu Ammarah Bissu’ ini selalu melepaskan diri dari tantangan dan tidak mau menentang, bahkan patuh tunduk saja kepada nafsu syahwat dan panggilan syaitan.
Terlepas dari Perangkap Nafsu
Pada diri manusia, sebenarnya nafsu itu hanya ada satu, tetapi nafsu ini akan menjelma menjadi Ammarah, lalu Lawwamah dan yang akhirnya meningkat menjadi Muthmainnah. Artinya nafsu Muthmainnah inilah puncak kesempurnaan dan kebaikan nafsu manusia.
Ahmad Faried dalam kitab Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu Ulama’ Us-Salaf (Menyucikan Jiwa: Konsep Ulama Salaf), diungkapkan bahwa nafsu Muthmainnah, selalu berteman dan berada di samping para malaikat. Dengannya kita mendapatkan bimbingan dan dorongan pada kebenaran hakiki yang mengiasi dengan nuansa keindahan bagi kehidupan. Kehadirannya mampu membentengi diri dari setiap keinginan berbuat jahat dan mampu merefleksikan segala bentuk kejahatan beserta akibat dan sanksi-Nya, agar ia mau menjauhinya. Jadi, segala perbuatan manusia yang semata-mata untuk ubuddiyah kepada Allah, maka itu semua bermuara dari nafsu Muthmainnah.
Nafsu Muthmainnah bersama-sama dengan malaikat mengemban tugas untuk memberi penyegaran jiwa manusia dengan: tauhid, ihsan, kebaikan, takwa, tawakal, tobat, kembali pada jalan Allah, tidak panjang angan-angan, mempersiapkan bekal untuk menyongsong kematian dan hidup sesudahnya.
Sementara itu, nafsu Ammarah, berada dalam garis komando setan yang dijadikannya sebagai pendamping setianya. Ia akan selalu memberikan janji-janji kosong, mengisinya dengan kebatilan, mengajaknya berbuat jahat dan menghiasi kejahatan itu sebagai sesuatu yang menarik baginya. melalui kata-kata manis yang beracun, otak kita dikendalikannya sehingga seolah-olah kita akan hidup selamanya.
Di sini, peran setan bersama-sama dengan para simpatisannya (orang-orang kafir) akan mempengaruhi nafsu Ammarah agar melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kebaikan-kebaikan yang diperbuat nafsu Muthmainnah.
Berdasarkan interprestasi demikian, tugas terberat yang harus dipikul dan menyulitkan bagi nafsu Muthmainnah adalah membebaskan suatu perbuatan dari campur tangan setan dan nafsu Ammarah. Namun demikian, untuk melawan pengaruh nafsu Ammarah atas hati orang Mukmin, adalah dengan menyiasati dan tidak memperturutkan kemauan-kemauannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw berikut: “Orang yang pandai ialah orang yang mau menyiasati nafsunya dan beramal untuk bekal kehidupan sesudah mati. Dan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah (dengan angan-angan kosong).” (HR. Imam Ahmad).
Pada konteks ini, kita perlu mengadakan introspeksi diri atas nafsu-nafsu yang menyelimuti diri setiap Mukmin. Dalam hal ini, Nabi saw bersabda: “Hisablah dirimu sebelum dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum ditimbang (di hadapan Allah). Sebab lebih ringan bagimu, jika kamu mau menghisab diri pada hari ini, daripada menunggu nanti diperhitungkan pada hari penghisaban dan penimbangan, yaitu pada hari pertemuan besar antara para makhluk dengan Tuhan mereka.” (HR. Imam Ahmad dari Umar bin Khathab ra.).
Menurut Ahmad Faried, ada dua cara untuk mengadakan penghisaban (pengevaluasian) terhadap nafsu, yaitu sebelum dan sesudah melakukannya. (1) Hendaknya seseorang berhenti untuk berpikir ketika pertama kali ia bermaksud memulai pekerjaan. Dan jangan tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum jelas baginya bahwa keputusannya itu tidak berdampak negatif. Imam Hasan al-Bashri berkata: “Semoga Allah merahmati hamba-Nya yang mau berpikir sejenak ketika ia mau melakukan perbuatan, jika memang perbuatan itu karena Allah, maka ia teruskan dan jika karena selain-Nya, maka ia batalkan.”
(2) Mengevaluasi diri setelah beramal. Dalam hal ini ada tiga tingkatan evaluasi. Pertama, mengevaluasi nafsu atas ketaatan yang dilakukannya, tetapi ia kurang dalam memenuhi hak Allah dalam perbuatan itu. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Adapun hak Allah dalam ketaatan itu ada enam perkara: ikhlas berbuat, nasihat (mengharap kebaikan) karena Allah, mengikuti ajaran Rasul saw, menampakkan sisi ikhsan dalam beramal, mengakui karunia Allah atasnya dan setelah itu mengakui akan kekurangannya dalam melakukan perbuatan itu. Maka dihisablah dirinya sendiri dari kriteria yang ditetapkan-Nya tersebut.
Kedua, menghisab diri atas setiap perbuatan yaang apabila ditinggalkan lebih utama daripada dikerjakan. Ketiga, menghisab diri atas suatu perbuatan yang boleh (mubah) hukumnya, sebab ia telah melakukannya. Terlepas dari apakah ia melakukannya karena Allah dan kehidupan akhirat, supaya beruntung, ataukah demi mengejar kebahagiaan dunia yang semu dan temporal ini, sehingga ia akan menyesal di hari kemudian?
Sementara itu, dalam bahasa Ibn al Jauziy dalam kitab Dzamm al Hawaa (Celaan Terhadap Hawa Nafsu), untuk terlepas dari perangkap (nafsu) bagi orang yang terjerumus di dalamnya adalah dengan niat dan tekad yang kuat untuk meninggalkan sumber penyebabnya. Caranya dengan bertahap, sedikit demi sedikit meninggalkan biangnya. Dan menurut beliau ini memerlukan kesabaran dan perjuangan dengan bantuan tujuh perkara. Yaitu (1) Merenung dan berfikir kembali bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan bukan untuk menjadi budak nafsu. Manusia diciptakan agar bisa mempertimbangkan akibat segala sesuatu dan beramal saleh untuk bekal kehidupan akhirat.
(2) Hendaklah dia memikirkan akibat yang akan ditimbulkan oleh hawa nafsu. Sudah berapa banyak akibat hawa nafsu, beberapa keutamaan menjadi musnah. Sudah berapa banyak karena nafsu, manusia terjerumus dalam lembah nista. Berapa banyak makanan yang menyebabkan penyakit. Berapa banyak pula akibat kekhilafan, reputasi menjadi pudar, malah mengakibatkan cemoohan dan hukuman. Sayangnya orang yang dikuasai hawa nafsu kerap menjadi buta dengan apa yang ada di sekelilingnya.
(3) Hendaklah orang yang berakal membayangkan bahwa dia baru saja memenuhi syahwatnya dan membersitkan dalam benaknya akibat dari perbuatan itu. Kemudian dia membayangkan lagi bahaya yang muncul setelah kenikmatan yang hanya sesaat (itu dilakukan). Maka dia akan menjumpai bahaya yang ada jauh lebih besar dibanding dengan kenikmatan hawa nafsu (yang dirasakan).
(4) Hendaklah dia membayangkan seandainya syahwat itu dilakukan orang. Lalu dia memikirkan akibat dari syahwat tersebut di dalam pikiran, seandainya aib itu menimpa dirinya.
(5) Hendaklah dia memikirkan kembali kenikmatan yang sedang dia kejar. Niscaya akal memberitahu kepadanya bahwa kenikmatan itu sebenarnya tidak berarti apa-apa. Hanya memang mata hawa nafsu telah buta (sehingga tidak obyektif dalam menilai sesuatu).
(6) Hendaklah dia memikirkan bagaimana terhormatnya ketika menang dan hinanya ketika kalah. Sesungguhnya tidak seorangpun yang berhasil menguasai hawa nafsunya melainkan dia akan merasa kuat kemenangannya. Dan tidak seorangpun yang berhasil ditaklukkan oleh hawa nafsunya melainkan akan merasa hina dan tidak ada harganya.
(7) Hendaknya membayangkan faedah tidak menuruti hawa nafsu. Di anatara faedah mengekang hawa nafsu adalah mendapatkan nama baik di dunia, selamatnya jiwa dan badan serta pahala yang telah dijanjikan di akhirat. Sebaliknya apabila dia mengumbar hawa nafsu, maka akan mendapatkan kebalikan dari faedah tersebut. Ada baiknya, jika seseorang membayangkan kondisi di atas, seperti kondisi yang dialami oleh Nabi Adam (baca: kasus memakan buah khuldi) dan Nabi Yusup as (baca: kasus bujuk rayu Zulaikha). Yang satu mengenai kenikmatan sesaat dan yang satu lagi mengenai kesabaran yang dijalankan dengan penuh derita, namun kemuliaan yang diterima setelah itu.
Golongan dan Kualifikasi Manusia
Manusia yang berakal, tentu akan melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsu agar bisa selamat dimasa yang akan datang. Selain itu, orang berakal sadar betul bahwa orang yang menuruti hawa nafsu (syahwatnya) akan kecanduan dan tidak akan tentram ketika meninggalkan perbuatan tersebut, karena syahwat itu telah menjadi bagian hidupnya dan tidak pernah memberinya kepuasan. Di sinilah, kita harus mampu memenuhi hasrat nafsu secara proporsional.
Adapun akibat tatanan sikap manusia dalam memposisikan nafsu atas perilaku hidupnya di dunia, maka manusia dibedakan menjadi dua golongan.Pertama, golongan yang terkalahkan oleh nafsunya, sehingga setiap perilakunya dikendalikan nafsunya.
Kedua, golongan yang mampu mengekang bahkan mengalahkan nafsunya, maka tunduklah nafsu itu pada perintahnya. Para golongan yang telah sampai pada tingkat makrifatullah ada yang berkata: “Akibat dari perjalanan panjang seseorang yang meniti jalan menuju makrifat yaitu, jika dapat membuktikan dirinya telah mampu mengalahkan nafsu-nafsunya. Barangsiapa yang berhasil mengalahkan nafsu itu, maka beruntunglah ia, sebaliknya bagi yang terkalahkan oleh nafsunya, maka merugi dan hancurlah ia.”
Sedangkan Ibnul Qayyim Al-Jauziah dalam Thariqul Istiqamah (Meretas Jalan Istiqamah) mengungkapkan bahwa di dalam meniti fase-fase perjalanan menuju Allah, manusia terkualifikasi menjadi lima golongan. (1) Golongan Asy-Qiya’ (orang-orang yang sengsara), adalah siapa saja yang berjalan menuju lembah kesengsaraan. Mereka ini dimurkai oleh Allah, karena penolakannya terhadap kebenaran kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, senantiasa menghalang-halangi seseorang yang meniti jalan-Nya.
(2) Golongan Zalimun (aniaya), ialah golongan orang yang apabila mengisi umurnya dengan melakukan kelalaian dan mengutamakan tuntunan nafsu daripada mencari ridha-Nya. Padahal mereka sendiri beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, para Rasul, hari akhirat dan kiamat.
(3) Golongan Terpedaya, yaitu golongan orang-orang yang sudah terlena dan tenggelam dalam kubangan dosa. Perbuatan yang bermuara pada dosa sudah mendarah daging dalam hidupnya. Dampaknya mengimbas pada pandangan dan mata hatinya mulai kabur bahkan buta sama sekali.
(4) Golongan Al-Abrar (orang-orang baik), yaitu mereka yang melewatkan setiap jengkal langkahnya dengan menegakkan perintah Allah dan membentengi hatinya dari segala macam perbuatan yang akan membelokkannya dari konsep dan syariat Allah.
(5) Golongan As-Sabiqun Al-Muqarrabun (orang-orang yang menang dan dekat), yaitu mereka yang hatinya telah penuh dengan pancaran sinar ma’rifat, mahabbah, khauf dan respektif terhadap keinginan Allah SWT. Dan Mahabbahnya itu telah menyatu dalam hidup dan kehidupannya.
Oleh karena itu, sikap menyia-nyiakan nafsu tanpa kontrol dan menyepelekan permasalahannya akan menggiring manusia pada kerusakan yang nyata dan menjauhkan dari-Nya. Hal ini sudah membudaya pada diri orang yang terbius dan tertipu oleh nafsu dan dunianya.
Akhirnya kita berdoa kepada Allah SWT agar kita mampu memenuhi hasrat nafsu secara proporsional dan terlindungi dari tipu daya nafsu yang menggelincirkan lagi tercela (yaitu nafsu yang melebihi batas kewajaran). Amin. Wallahu’alam.***
Daftar Inspirasi
1. Alquranul Karim
2. Ahmad Faried, DR., Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu Ulama’ Us-Salaf (Terjemahan). Surabaya: Risalah Gusti; 1994.
3. Choiruddin Hadhiri S.P., Klasifikasi Kandungan Alquran. Jakarta: GIP; 1998.
4. Ibnul Al-Jauziy, Dzamm al Hawaa (Terjermahan). Jakarta: Pustaka Azzam; 2000.
5. Ibnul Qayyim Al-Jauziah, Thariqul Istiqamah (Terjemahan). Surabaya: Risalah Gusti; 1994.
6. W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka; 1976.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
NAFSU diartikan sebagai keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat berupa dorongan batin untuk berbuat yang kurang baik; kemarahan; kepanasan hati. Di sini, seakan-akan kata nafsu selalu menggiring alam pikiran kita kepada konotasi yang rendah, primitif, dan negatif. Apakah hal ini memang benar seperti itu? Lalu, bagaimana konsep nafsu menurut ajaran Islam?
Dalam beberapa ayat Alquran (al Nisa’: 135; Shaad: 26; al Najm: 3; al Naazi’aat: 40; al A’raf: 176; al Kahf:: 28; Thaaha: 16; al Furqaan: 43; al Qashash: 50; al Jaatsiyah: 23), ternyata kesemua kata al hawaa (hawa nafsu) mengandung pengertian tentang sesuatu hal yang cenderung menguasai, memperbudak, melanggar batas, berbuat tidak bermoral, mencari kenikmatan sesaat dan mengakibatkan penyesalan.
Hawa nafsu memang diakui selalu mengajak kepada sesuatu yang dianggap nyaman dan nikmat, maksiat, kesia-siaan dan condong untuk memuaskan diri pada kehidupan duniawi. Tetapi, yang jelas, Allah Azza wa Jalla tidak pernah menjadikan sesuatu itu secara sia-sia. Begitu juga dengan hawa nafsu, sekalipun hawa nafsu ini selalu mengajak manusia kepada perbuatan amoral, namun dia merupakan satu-satunya perangkat bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya di dunia ini (baca: nafsu makan, minum, seksual, dll). Dan Allah sendiri selalu menekankan terhadap manusia agar takut kepada-Nya dan tidak memperturutkan hawa nafsu. Dua posisi inilah yang akan menghadapkan manusia pada ujian dan tantangan yang harus dihadapinya di dunia.
Permasalahannya, adalah bagaimana kemampuan manusia itu dengan kepandaian akalnya dapat memenuhi hasrat nafsunya secara proporsional dan sesuai kebutuhan dalam fase-fase perjalanan menuju Allah SWT.
Jenis-Jenis Nafsu
Dalam Alquran Allah SWT telah menjelaskan tentang jenis-jenis nafsu yang dimiliki manusia, yaitu Muthmainnah, Lawwamah dan Ammarah Bissu’.
Pertama, nafsu Muthmainnah. Nafsu ini tenang pada suatu hal dan jauh dari keguncangan yang disebabkan oleh bermacam-macam tantangan dan dari bisikan syaitan. Apabila nafsu tenang bersama Allah, tentram ketika mengingat-Nya, selalu merindukan-Nya dan senang ada di dekat-Nya, itulah nafsu Muthmainnah. Dialah nafsu yang di saat ajal menjelang, akan dikatakan kepadanya: “Hai nafsu (jiwa) yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).
Untuk itu, jangan dibiarkan nafsu yang selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Allah (baca: QS. 12: 53). Agar nafsu itu mendapat rahmat Allah, maka manusia harus beristiqamah/ berteguh pendirian terhadap Allah (baca: QS. 41: 30), selalu ikhlas dalam setiap amal dan selalu ingat bahwa diri ini akan kembali kepada-Nya (baca: QS. 23: 57-61), selalu beriman dan bertaqwa agar mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup (baca: QS. 10: 62-64).
Kedua, nafsu Lawwamah. Yakni nafsu yang tidak pernah konsisten atau stabil di atas satu keadaan. Ia seringkali berubah –baik pendirian/ perilaku--. Ia antara ingat dan lalai, ridha dan marah, cinta dan benci, serta taat dan berdoa kepada Allah atau bahkan berpaling dari-Nya. Jadi, nafsu ini tidak/ belum sempurna ketenangannya, karena selalu menentang atau melawan kejahatan tetapi suatu saat teledor dan lalai berbakti kepada Allah, sehingga dicela dan disesalinya.
Allah berfirman dalam Alquran surat Al Qiyaamah: 1-5, “Aku bersumpah dengan hari kiamat; dan Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah (jiwa yang menyesali dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulang?; Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun kembali jari-jarinya dengan sempurna; Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus.”
Ketiga, nafsu Ammarah Bissu’. Yaitu nafsu yang tercela, sebab ia memiliki watak selalu mengajak ke arah kezaliman. Tidak seorangpun yang terlepas dari watak buruk nafsu ini, kecuali orang yang memperoleh pertolongan Allah SWT sebagaimana kisah istri Al-Aziz, penguasa Mesir. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusup: 33).
Dan Allah pun berfirman, “Sekiranya tidak karena Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya.” (QS. An-Nur: 21). Singkatnya, nafsu Ammarah Bissu’ ini selalu melepaskan diri dari tantangan dan tidak mau menentang, bahkan patuh tunduk saja kepada nafsu syahwat dan panggilan syaitan.
Terlepas dari Perangkap Nafsu
Pada diri manusia, sebenarnya nafsu itu hanya ada satu, tetapi nafsu ini akan menjelma menjadi Ammarah, lalu Lawwamah dan yang akhirnya meningkat menjadi Muthmainnah. Artinya nafsu Muthmainnah inilah puncak kesempurnaan dan kebaikan nafsu manusia.
Ahmad Faried dalam kitab Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu Ulama’ Us-Salaf (Menyucikan Jiwa: Konsep Ulama Salaf), diungkapkan bahwa nafsu Muthmainnah, selalu berteman dan berada di samping para malaikat. Dengannya kita mendapatkan bimbingan dan dorongan pada kebenaran hakiki yang mengiasi dengan nuansa keindahan bagi kehidupan. Kehadirannya mampu membentengi diri dari setiap keinginan berbuat jahat dan mampu merefleksikan segala bentuk kejahatan beserta akibat dan sanksi-Nya, agar ia mau menjauhinya. Jadi, segala perbuatan manusia yang semata-mata untuk ubuddiyah kepada Allah, maka itu semua bermuara dari nafsu Muthmainnah.
Nafsu Muthmainnah bersama-sama dengan malaikat mengemban tugas untuk memberi penyegaran jiwa manusia dengan: tauhid, ihsan, kebaikan, takwa, tawakal, tobat, kembali pada jalan Allah, tidak panjang angan-angan, mempersiapkan bekal untuk menyongsong kematian dan hidup sesudahnya.
Sementara itu, nafsu Ammarah, berada dalam garis komando setan yang dijadikannya sebagai pendamping setianya. Ia akan selalu memberikan janji-janji kosong, mengisinya dengan kebatilan, mengajaknya berbuat jahat dan menghiasi kejahatan itu sebagai sesuatu yang menarik baginya. melalui kata-kata manis yang beracun, otak kita dikendalikannya sehingga seolah-olah kita akan hidup selamanya.
Di sini, peran setan bersama-sama dengan para simpatisannya (orang-orang kafir) akan mempengaruhi nafsu Ammarah agar melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kebaikan-kebaikan yang diperbuat nafsu Muthmainnah.
Berdasarkan interprestasi demikian, tugas terberat yang harus dipikul dan menyulitkan bagi nafsu Muthmainnah adalah membebaskan suatu perbuatan dari campur tangan setan dan nafsu Ammarah. Namun demikian, untuk melawan pengaruh nafsu Ammarah atas hati orang Mukmin, adalah dengan menyiasati dan tidak memperturutkan kemauan-kemauannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw berikut: “Orang yang pandai ialah orang yang mau menyiasati nafsunya dan beramal untuk bekal kehidupan sesudah mati. Dan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah (dengan angan-angan kosong).” (HR. Imam Ahmad).
Pada konteks ini, kita perlu mengadakan introspeksi diri atas nafsu-nafsu yang menyelimuti diri setiap Mukmin. Dalam hal ini, Nabi saw bersabda: “Hisablah dirimu sebelum dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum ditimbang (di hadapan Allah). Sebab lebih ringan bagimu, jika kamu mau menghisab diri pada hari ini, daripada menunggu nanti diperhitungkan pada hari penghisaban dan penimbangan, yaitu pada hari pertemuan besar antara para makhluk dengan Tuhan mereka.” (HR. Imam Ahmad dari Umar bin Khathab ra.).
Menurut Ahmad Faried, ada dua cara untuk mengadakan penghisaban (pengevaluasian) terhadap nafsu, yaitu sebelum dan sesudah melakukannya. (1) Hendaknya seseorang berhenti untuk berpikir ketika pertama kali ia bermaksud memulai pekerjaan. Dan jangan tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum jelas baginya bahwa keputusannya itu tidak berdampak negatif. Imam Hasan al-Bashri berkata: “Semoga Allah merahmati hamba-Nya yang mau berpikir sejenak ketika ia mau melakukan perbuatan, jika memang perbuatan itu karena Allah, maka ia teruskan dan jika karena selain-Nya, maka ia batalkan.”
(2) Mengevaluasi diri setelah beramal. Dalam hal ini ada tiga tingkatan evaluasi. Pertama, mengevaluasi nafsu atas ketaatan yang dilakukannya, tetapi ia kurang dalam memenuhi hak Allah dalam perbuatan itu. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Adapun hak Allah dalam ketaatan itu ada enam perkara: ikhlas berbuat, nasihat (mengharap kebaikan) karena Allah, mengikuti ajaran Rasul saw, menampakkan sisi ikhsan dalam beramal, mengakui karunia Allah atasnya dan setelah itu mengakui akan kekurangannya dalam melakukan perbuatan itu. Maka dihisablah dirinya sendiri dari kriteria yang ditetapkan-Nya tersebut.
Kedua, menghisab diri atas setiap perbuatan yaang apabila ditinggalkan lebih utama daripada dikerjakan. Ketiga, menghisab diri atas suatu perbuatan yang boleh (mubah) hukumnya, sebab ia telah melakukannya. Terlepas dari apakah ia melakukannya karena Allah dan kehidupan akhirat, supaya beruntung, ataukah demi mengejar kebahagiaan dunia yang semu dan temporal ini, sehingga ia akan menyesal di hari kemudian?
Sementara itu, dalam bahasa Ibn al Jauziy dalam kitab Dzamm al Hawaa (Celaan Terhadap Hawa Nafsu), untuk terlepas dari perangkap (nafsu) bagi orang yang terjerumus di dalamnya adalah dengan niat dan tekad yang kuat untuk meninggalkan sumber penyebabnya. Caranya dengan bertahap, sedikit demi sedikit meninggalkan biangnya. Dan menurut beliau ini memerlukan kesabaran dan perjuangan dengan bantuan tujuh perkara. Yaitu (1) Merenung dan berfikir kembali bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan bukan untuk menjadi budak nafsu. Manusia diciptakan agar bisa mempertimbangkan akibat segala sesuatu dan beramal saleh untuk bekal kehidupan akhirat.
(2) Hendaklah dia memikirkan akibat yang akan ditimbulkan oleh hawa nafsu. Sudah berapa banyak akibat hawa nafsu, beberapa keutamaan menjadi musnah. Sudah berapa banyak karena nafsu, manusia terjerumus dalam lembah nista. Berapa banyak makanan yang menyebabkan penyakit. Berapa banyak pula akibat kekhilafan, reputasi menjadi pudar, malah mengakibatkan cemoohan dan hukuman. Sayangnya orang yang dikuasai hawa nafsu kerap menjadi buta dengan apa yang ada di sekelilingnya.
(3) Hendaklah orang yang berakal membayangkan bahwa dia baru saja memenuhi syahwatnya dan membersitkan dalam benaknya akibat dari perbuatan itu. Kemudian dia membayangkan lagi bahaya yang muncul setelah kenikmatan yang hanya sesaat (itu dilakukan). Maka dia akan menjumpai bahaya yang ada jauh lebih besar dibanding dengan kenikmatan hawa nafsu (yang dirasakan).
(4) Hendaklah dia membayangkan seandainya syahwat itu dilakukan orang. Lalu dia memikirkan akibat dari syahwat tersebut di dalam pikiran, seandainya aib itu menimpa dirinya.
(5) Hendaklah dia memikirkan kembali kenikmatan yang sedang dia kejar. Niscaya akal memberitahu kepadanya bahwa kenikmatan itu sebenarnya tidak berarti apa-apa. Hanya memang mata hawa nafsu telah buta (sehingga tidak obyektif dalam menilai sesuatu).
(6) Hendaklah dia memikirkan bagaimana terhormatnya ketika menang dan hinanya ketika kalah. Sesungguhnya tidak seorangpun yang berhasil menguasai hawa nafsunya melainkan dia akan merasa kuat kemenangannya. Dan tidak seorangpun yang berhasil ditaklukkan oleh hawa nafsunya melainkan akan merasa hina dan tidak ada harganya.
(7) Hendaknya membayangkan faedah tidak menuruti hawa nafsu. Di anatara faedah mengekang hawa nafsu adalah mendapatkan nama baik di dunia, selamatnya jiwa dan badan serta pahala yang telah dijanjikan di akhirat. Sebaliknya apabila dia mengumbar hawa nafsu, maka akan mendapatkan kebalikan dari faedah tersebut. Ada baiknya, jika seseorang membayangkan kondisi di atas, seperti kondisi yang dialami oleh Nabi Adam (baca: kasus memakan buah khuldi) dan Nabi Yusup as (baca: kasus bujuk rayu Zulaikha). Yang satu mengenai kenikmatan sesaat dan yang satu lagi mengenai kesabaran yang dijalankan dengan penuh derita, namun kemuliaan yang diterima setelah itu.
Golongan dan Kualifikasi Manusia
Manusia yang berakal, tentu akan melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsu agar bisa selamat dimasa yang akan datang. Selain itu, orang berakal sadar betul bahwa orang yang menuruti hawa nafsu (syahwatnya) akan kecanduan dan tidak akan tentram ketika meninggalkan perbuatan tersebut, karena syahwat itu telah menjadi bagian hidupnya dan tidak pernah memberinya kepuasan. Di sinilah, kita harus mampu memenuhi hasrat nafsu secara proporsional.
Adapun akibat tatanan sikap manusia dalam memposisikan nafsu atas perilaku hidupnya di dunia, maka manusia dibedakan menjadi dua golongan.Pertama, golongan yang terkalahkan oleh nafsunya, sehingga setiap perilakunya dikendalikan nafsunya.
Kedua, golongan yang mampu mengekang bahkan mengalahkan nafsunya, maka tunduklah nafsu itu pada perintahnya. Para golongan yang telah sampai pada tingkat makrifatullah ada yang berkata: “Akibat dari perjalanan panjang seseorang yang meniti jalan menuju makrifat yaitu, jika dapat membuktikan dirinya telah mampu mengalahkan nafsu-nafsunya. Barangsiapa yang berhasil mengalahkan nafsu itu, maka beruntunglah ia, sebaliknya bagi yang terkalahkan oleh nafsunya, maka merugi dan hancurlah ia.”
Sedangkan Ibnul Qayyim Al-Jauziah dalam Thariqul Istiqamah (Meretas Jalan Istiqamah) mengungkapkan bahwa di dalam meniti fase-fase perjalanan menuju Allah, manusia terkualifikasi menjadi lima golongan. (1) Golongan Asy-Qiya’ (orang-orang yang sengsara), adalah siapa saja yang berjalan menuju lembah kesengsaraan. Mereka ini dimurkai oleh Allah, karena penolakannya terhadap kebenaran kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, senantiasa menghalang-halangi seseorang yang meniti jalan-Nya.
(2) Golongan Zalimun (aniaya), ialah golongan orang yang apabila mengisi umurnya dengan melakukan kelalaian dan mengutamakan tuntunan nafsu daripada mencari ridha-Nya. Padahal mereka sendiri beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, para Rasul, hari akhirat dan kiamat.
(3) Golongan Terpedaya, yaitu golongan orang-orang yang sudah terlena dan tenggelam dalam kubangan dosa. Perbuatan yang bermuara pada dosa sudah mendarah daging dalam hidupnya. Dampaknya mengimbas pada pandangan dan mata hatinya mulai kabur bahkan buta sama sekali.
(4) Golongan Al-Abrar (orang-orang baik), yaitu mereka yang melewatkan setiap jengkal langkahnya dengan menegakkan perintah Allah dan membentengi hatinya dari segala macam perbuatan yang akan membelokkannya dari konsep dan syariat Allah.
(5) Golongan As-Sabiqun Al-Muqarrabun (orang-orang yang menang dan dekat), yaitu mereka yang hatinya telah penuh dengan pancaran sinar ma’rifat, mahabbah, khauf dan respektif terhadap keinginan Allah SWT. Dan Mahabbahnya itu telah menyatu dalam hidup dan kehidupannya.
Oleh karena itu, sikap menyia-nyiakan nafsu tanpa kontrol dan menyepelekan permasalahannya akan menggiring manusia pada kerusakan yang nyata dan menjauhkan dari-Nya. Hal ini sudah membudaya pada diri orang yang terbius dan tertipu oleh nafsu dan dunianya.
Akhirnya kita berdoa kepada Allah SWT agar kita mampu memenuhi hasrat nafsu secara proporsional dan terlindungi dari tipu daya nafsu yang menggelincirkan lagi tercela (yaitu nafsu yang melebihi batas kewajaran). Amin. Wallahu’alam.***
Daftar Inspirasi
1. Alquranul Karim
2. Ahmad Faried, DR., Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu Ulama’ Us-Salaf (Terjemahan). Surabaya: Risalah Gusti; 1994.
3. Choiruddin Hadhiri S.P., Klasifikasi Kandungan Alquran. Jakarta: GIP; 1998.
4. Ibnul Al-Jauziy, Dzamm al Hawaa (Terjermahan). Jakarta: Pustaka Azzam; 2000.
5. Ibnul Qayyim Al-Jauziah, Thariqul Istiqamah (Terjemahan). Surabaya: Risalah Gusti; 1994.
6. W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka; 1976.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Membangun Pribadi Pantang Menyerah
Oleh: ARDA DINATA
Allah telah menciptakan alam dan isinya berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll. Begitu juga dengan iman kita. Iman bisa datang dan pergi, naik dan turun.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat dimana ia ingin beribadah dan ada saat dimana enggan beribadah.” Diantara dua keadaan itulah manusia menjalani kehidupan ini. Dan diantara dua keadaan itu pula nasib manusia ditentukan.
Dalam arti lain, semakin seseorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini akan mengakhiri hidupnya. Demikian sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik. Pertanyaannya, bagaimana cara mewujudkan kondisi pribadi yang berujung kebaikan, pribadi yang pantang menyerah tersebut?
Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Allah itu tidak akan meleset sedikit pun.
Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.
Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.
Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada hadist Nabi yang menyebutkan bahwa: “Orang mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari mukmin yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dam kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada Allah.
Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan Alquran itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu (QS. 58: 11). Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia.
Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).
Sedangkan menurut M. Yunan Nasution (1976), mengungkapkan pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.
Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.
Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.
Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan terhadap Sang Pencipta. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa agar sesuai dengan ridho-Nya.
Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Allah. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari kejadian itu dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya.
Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita menuju ridho-Nya. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.
Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.
Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.
Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes.
Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak, di hadapan Allah SWT. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Allah berfirman, yang artinya: “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Untuk memaksimalkan sikap positif pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu perlu dibagun pula dengan kebiasaan positif.
Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, semoga Allah memberi kemampuan terhadap kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah sesuai tuntutan-Nya. Amin. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Allah telah menciptakan alam dan isinya berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas; sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll. Begitu juga dengan iman kita. Iman bisa datang dan pergi, naik dan turun.
Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat dimana ia ingin beribadah dan ada saat dimana enggan beribadah.” Diantara dua keadaan itulah manusia menjalani kehidupan ini. Dan diantara dua keadaan itu pula nasib manusia ditentukan.
Dalam arti lain, semakin seseorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini akan mengakhiri hidupnya. Demikian sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik. Pertanyaannya, bagaimana cara mewujudkan kondisi pribadi yang berujung kebaikan, pribadi yang pantang menyerah tersebut?
Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa sekenario Allah itu tidak akan meleset sedikit pun.
Pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan, mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar. Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.
Pribadi pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya yang begitu tangguh dan kuat.
Seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan untuk sukses. Dan seseorang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada hadist Nabi yang menyebutkan bahwa: “Orang mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih baik dari mukmin yang lemah.” Jadi, manusia tangguh dam kuat itu, sudah seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada Allah.
Dalam konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan Alquran itu memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu (QS. 58: 11). Kedua hal ini, kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia.
Dengan kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik (quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).
Sedangkan menurut M. Yunan Nasution (1976), mengungkapkan pengaruh iman terhadap kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.
Untuk mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang menyelimuti pola pikir orang tersebut.
Menyikapi keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan percaya diri.
Setiap manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan terhadap Sang Pencipta. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir dan berdoa agar sesuai dengan ridho-Nya.
Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa? Pertama, berpikir positif kepada Allah. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari kejadian itu dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku keseharian.
Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya.
Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita menuju ridho-Nya. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.
Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
Ketiga, berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.
Belajarlah dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai kembali.
Keempat, berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh, berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun, ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes.
Yang jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak, di hadapan Allah SWT. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Allah berfirman, yang artinya: “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Untuk memaksimalkan sikap positif pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan istiqomah pada jalan-Nya. Tentu perlu dibagun pula dengan kebiasaan positif.
Semoga tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita berdoa, semoga Allah memberi kemampuan terhadap kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah sesuai tuntutan-Nya. Amin. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Memaknai Hakekat Kebebasan dalam Islam
Oleh: ARDA DINATA
Kemerdekaan yang telah “dicapai” bangsa Indonesia adalah rahmat dari Allah SWT. Hasil ini tentu tidak terlepas dari peran umat Islam sebagai kekuatan pembebas pada waktu itu. Dan peran ini harus tidak berhenti sampai di situ, tetapi hal ini hendaknya oleh kita (generasi penerus) terus melakukan perjuangan untuk memelihara serta mengamankan, manakala (saat ini) masih kita jumpai penindasan, ketidakadilan yang menyeruak kembali kepermukaan sejarah. Dalam hal ini, tanpa memperdulikan siapa yang memegang kekuasaan di negeri ini (baca: QS. Ali ‘Imran: 110).
MERDEKA diartikan sebagai bebas (dari perhambaan, penjajahan dsb); berdiri sendiri (tidak terikat, tidak tergantung pada sesuatu yang lain); lepas (dari tuntutan). Orang menyebut kemerdekaan ini dengan kebebasan.
Kondisi bebas itu dapat dimaknai dengan beberapa pengertian. (1) Bebas berarti lepas sama sekali (tidak teralang, terganggu dsb sehingga boleh bergerak, bercakap, berbuat dsb dengan leluasa). (2) Bebas berarti lepas dari (kewajiban, tuntutan, ketakutan dsb). (3) Bebas berarti merdeka (tidak diperintah atau sangat dipengaruhi negara lain). Lantas, timbul pertanyaan bagaimana pandangan Islam terhadap kemerdekaan/kebebasan bagi tiap individu dan bangsa?
Untuk menjawabnya, kita tidak akan terlepas dari arti Islam itu sendiri. Yakni, Islam itu damai. Artinya, apakah ada rasa aman dan damai dalam suatu perbudakan dan penjajahan? Jawabnya, tentu di setiap perbudakan dan penjajahan tidak akan terdapat perdamaian, justru sebaliknya timbul ketakutan dan perkosaan.
Pada tatanan itulah, Islam jelas-jelas anti penjajahan, ketertindasan dan perbudakan. Islam pro kemerdakaan. Ketika seorang anak Adam mengucapkan dua kalimat syahadat, berarti dia telah memproklamasikan kemerdekaan dirinya. Dia telah melepaskan dirinya dari perbudakan antara sesama makhluk.
Dalam sejarah Islam, kita melihat bahwa ketika kalimat dan seruan kemerdekaan (baca: dua kalimat syahadat) menggema menghampiri ke pelosok-pelosok Mekkah, nabi dan para sahabat di tuduh sebagai pengganggu stabilitas nasionalnya, oleh kaum kuffar. Tawaran baik Nabi Saw. berupa “kemerdekaan sesungguhnya” –jalan lurus-- disambut lemparan batu, kotoran binatang, dan caci maki. Tapi, Rasul Saw. Itu tidak serta merta melancarkan balasan peperangan. Malahan sebaliknya ketika kaum kuffar masih tetap mengakui kemerdekaan versi nenek moyangnya, Nabi Saw. tetap tegar “menyanyikan” lagu kemerdekaan yang sesuai risalah illahi itu secara bijaksana.
Di sini, jelas-jelas orang kuffar itu telah salah memaknai arti sebuah kemerdekaan yang hakiki (karena telah tertutup mata hatinya). Padahal kemerdekaan yang mereka anut tersebut secara nyata adalah semata-mata kemerdekaan yang memiliki keterikatan dengan hawa nafsu yang dibuat oleh mereka sendiri –kebebasan yang dibelenggu oleh Hizbussyaithan--. Lantas, bagaimana hakekat sebuah kemerdekaan/kebebasan di Indonesia dewasa ini?
Bagi bangsa Indonesia, merdeka dalam arti yang hakiki ternyata suatu barang langka. Kondisi suburnya tanah; melimpahnya sumber daya alam; letak geografis yang strategis; potensi sumber daya manusia yang melimpah dengan beragam keahlian, suku bangsa dan bahasa, ternyata belum menjadi jaminan bisa meraih kemerdekaan (kebebasan) itu. Bahkan, bisa jadi bangsa dan rakyat kebanyakan justru merasakan ketertindasan dan keterkukungan oleh bangsanya sendiri.”
Berkait dengan itu, menurut dosen FISIP UI, Eep Saefullah Fatah, sebetulnya yang sudah kita capai itu kemerdekaan formal, negara berdaulat. Kemerdekaan hakiki hanya bisa tercapai apabila semua orang di negara yang berdaulat itu benar-benar merdeka.
Sementara itu, dalam pandangan Sosiolog UI, Dr. Imam Prasodjo, salah satu ciri negara merdeka adalah mampu membangkitkan harapan dan kesempatan yang luas kepada warganya untuk memperbaiki taraf hidup. Di negara-negara maju, selalu saja, ada impian atau harapan yang didengungkan. Lebih jauh, diungkapkan bahwa kesempatan tersebut harus diberikan kepada semua orang. Tidak boleh ada diskriminasi karena perbedaan status sosial seperti pada zaman feodal.
Untuk itu, agar kita dapat menikmati makna kemerdekaan yang sesungguhnya, maka setiap kita harus memposisikan kemerdekaan tersebut sesuai dengan nilai-nilai Islam. Yaitu kemerdekaan ini tidak dapat dilakukan secara sekehendak hati setiap individu, kerena hal ini dapat ditumpangi oleh hawa nafsu, sehingga merusak kemerdekaan orang lain dan kemerdekaan itu sendiri.
Lebih jauh dari itu, kemerdekaan sebenarnya merupakan manifestasi keimanan, sehingga kemerdekaan itu mengandung arti tanggung jawab. Seharusnya setiap orang beriman itu akan mempertahankan kemerdekaannya dengan sepenuh kekuatan, baik badan, lisan dan perasaan. Hanya orang yang lemah imannya yang akan mempertahankan kemerdekaannya dengan perasaannya saja (baca: hati).
Oleh sebab itu, bagi mereka yang keras imannya tidak akan mau dan rela melepaskan kemerdekaannya barang sedikit dan sejenak pun. Baginya, kemerdekaan merupakan mahkota kehormatan yang dilimpahkan Tuhan kepadanya. Dan melalui kemerdekaan itulah, seseorang dapat memperbaiki nasibnya, memperoleh derajat tinggi dan memperjuangkan kehormatan yang agung.
Kebebasan dalam Konstitusi Madinah
Berbicara kebebasan, sebenarnya kita membicarakan tentang hak asasi manusia (HAM). Karena, kebebasan itu sendiri merupakan bagian dari HAM. Dalam UUD 1945, kita mengenal ada beberapa hak asasi yang patut didapatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Yaitu hak untuk hidup; persamaan kedudukan (pasal 27); kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat (pasal 28); kemerdekaan beragama (pasal 29); dan hak mendapat pengajaran (pasal 31).
Sementara itu, dalam konstitusi Madinah tersirat beberapa pasal yang merupakan hak asasi manusia, diantaranya: Pertama, hak untuk hidup. Hal ini manusiawi bahwa setiap orang ingin hidup lama. Konstitusi Madinah dalam pasal 14 disebutkan bahwa, “Seorang mukmin tidak boleh membunuh mukmin lain untuk kepentingan orang kafir, dan tidak boleh membantu orang kafir untuk melawan orang mukmin.”
Kedua, hak mencari kebahagiaan. Dalam konstitusi Madinah, telah meletakkan nama Allah SWT pada posisi paling atas. Hal ini memberi makna bahwa kebahagiaan itu bukan hanya semata-mata karena kecukupan materi akan tetapi juga harus berbarengan dengan ketenangan batin. Artinya harus terpenuhi kebutuhan rohani dan jasmani, bukan hanya kesejahteraan atau kebahagiaan orang seorang/golongan tertentu melainkan kebahagiaan seluruh rakyat.
Ketiga, keadilan. Dalam hubungan dengan keadilan ini ialah adanya ketentuan dalam konstitusi Madinah yaitu pasal 20 dan 43 yang tidak memperkenankan melindungi harta dan jiwa orang Quraisy serta orang-orang yang membantunya. Hal ini dikarenakan orang kafir Quraisy memerangi agama Islam waktu itu.
Keempat, kebebasan, yaitu meliputi: (a) Kebebasan mengeluarkan pendapat. Makna ini tersirat dalam konstitusi Madinah pada pasal 12, yaitu: “Bahwa seorang mukmin tidak boleh mengikat persekutuan atau aliasi dengan keluarga mukmin tanpa persetujuan yang lainnya.” Ini mengisyaratkan kita perlu mengeluarkan pendapat (baca: urun rembuk) melalui musyawarah. Demikian pula halnya yang tersirat dalam pasal 17, yaitu: “Sesungguhnya perdamaian orang-orang mukmin itu satu, tidak dibenarkan seorang mukmin membuat perjanjian damai sendiri tanpa mukmin yang lain dalam keadaan perang di jalan Allah, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka.”
(b) Kebebasan beragama. Ada beberapa pasal yang berkait dengan kebebasan beragama ini, diantaranya: “Sesungguhnya Yahudi Bani ‘Auf satu umat bersama orang-orang mukmin, bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi orang-orang muslim agama mereka, …” (pasal 25); “Sesungguhnya Yahudi Bani al-Najjar memperoleh perlakuan yang sama seperti yang berlaku bagi Yahudi Bani ‘Auf.” (pasal 26); “Sesungguhnya orang-orang dekat atau teman kepercayaan kaum Yahudi memperoleh perlakuan yang sama seperti mereka.” (pasal 35).
(c) Kebebasan dari kemiskinan. Konsep ini pada hakekatnya sejalan dengan usaha membebaskan diri dari kekurangan, kemelaratan dan kemiskinan. Kebebasan ini harus diatasi secara bersama, tolong menolong serta saling berbuat kebaikan. Di dalam konstitusi Madinah, upaya masalah ini berupa usaha kolektif bukan usaha individual seperti dalam pandangan Barat.
(d) Kebebasan dari perasaan takut. Pasal yang terkait dengan ini di dalam konstitusi Madinah, antara lain: pasal 14 seperti disebut di awal; pasal 40 (Sesungguhnya tetangga itu seperti diri sendiri, tidak boleh dimudarati dan diperlakukan secara jahat); pasal 47 (….Siapa saja yang keluar dari kota Madinah dan atau tetap tinggal didalamnya aman, kecuali orang yang berbuat aniaya dan dosa….).
Kebebasan dalam Islam
Kebebasan dalam Islam bukan hanya meliputi kemerdekaan/kebebasan dari perbudakan dan penjajahan, tetapi mencakup arena atau bidang yang sangat luas, yaitu: kebebasan berbicara atau melahirkan pendapat (freedom of speech); kebebasan dari rasa ketakutan (freedom from fear); kebebasan dari kemiskinan (freedom from want); dan kebebasan beragama (freedom of religion).
(1) Kebebasan berbicara atau melahirkan pendapat (freedom of speech).
Setiap manusia oleh Allah diberi lidah untuk berbicara. Oleh karena itu, kebebasan berbicara sangat dijunjung dalam Islam. Lagian, adanya hak untuk “mengeluarkan pendapat” ini akan menunjang terhadap tegaknya keadilan dalam kehidupan manusia.
Dalam sebuah hadist disebutkan, jikalau salah seorang di antara kamu melihat sesuatu kemungkaran (kesalahan) ia harus mengubahnya dengan tangannya, kalau ia tidak sanggup melakukannya, maka dengan lidahnya dan kalau itupun tak sanggup melakukannya maka di dalam hatinya, tetapi inipun bentuk iman yang paling rendah.
Sifat dari kebebasan berbicara ini adalah konstruktif di dalam ruang lingkup untuk menegakkan keadilan dan bukan untuk menimbulkan permusuhan serta perpecahan, melainkan untuk memelihara persaudaraan dan kasih sayang, karena hal ini bersumber dari keimanan.
Jadi, kebebasan berbicara atau melahirkan pendapat dalam pandangan Islam ialah diikat dengan tali iman dan akhlak, sehingga menuntut adanya pertanggung jawaban yang tinggi (baca: terhadap diri sendiri, masyarakat dan Allah SWT).
(2) Kebebasan dari rasa ketakutan (freedom from fear).
Setiap manusia menghendaki adanya keamanan dan kedamaian. Artinya, manusia menghendaki adanya kebebasan dari ancaman dan ketakutan. Kondisi kebebasan dari rasa ketakutan tidak akan datang dengan sendirinya melainkan harus diusahakan. Timbul dan lenyapnya kebebasan/kemerdekaan tergantung kepada usaha manusia sendiri. Setiap penjajahan dan perbudakan akan menimbulkan ancaman dan ketakutan. Penjajahan manusia atas manusia atau penjajahan bangsa atas bangsa lain merupakan bentuk kemungakaran dan kelaliman. Perilaku ini dalam Islam adalah dilarang.
Nabi Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah yang nyawaku ditangan-Nya, kamu harus menyuruh orang melakukan yang makruf dan melarang yang mungkar, atau jika tidak begitu Allah akan menimpakan azab atasmu, pada waktu itu kamu akan minta tolong kepada-Nya, tapi Dia tidak akan memperdulikannya.” (HR. Al Tirmidhi --- keterangan Hudhaifah).
(3) Kebebasan dari kemiskinan (freedom from want).
Tidak ada seorang pun manusia yang menghendaki hidup sengsara dan serba kekurangan. Tetapi, keinginan itu tidak akan menjadi realita tanpa bekerja dan usaha. Usaha merupakan jalan untuk tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dalam Alquran, Allah SWT menyuruh kepada kita untuk menyantuni orang-orang miskin, fakir dan anak-anak yatim. Bahkan orang yang tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin serta menghardik anak-anak yatim dikategorikan sebagai orang yang mendustakan agama.
Allah berfirman, yang artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustkan agama? Itulah, orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al Maa’un: 1-3).
Dalam makna yang hampir sama, Allah SWT berfirman, yang artinya: “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang minta-minta janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Adh Dhuhaa: 9-10).
(4) Kebebasan beragama (freedom of religion).
Keberadaan setiap nabi adalah untuk memperingati manusia dari kehancuran dan menonjolkan kepada jalan yang benar, serta menyampaikan aturan-aturan tentang hidup bermasyarakat yang bersumber dari Allah SWT.
Kita melihat kalau kebebasan beragama adalah hak yang paling sering ditindas oleh penguasa yang sewenang-wenang, bahkan oleh golongan yang satu terhadap yang lainnya, maka Islam justru sangat memberikan kebebasan penuh dalam soal urusan agama. Allah berfirman, yang artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah….” (QS. Al Baqarah: 256).
Selain itu, masing-masing orang yang beragama memeluk agamanya serta melaksanakan syariat agamanya. Allah berfirman, yang artinya: “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kaafiruun: 6). Nabi Muhammad Saw diperingati oleh Allah SWT, bahwa kalau dikehendaki oleh-Nya, semua manusia akan beriman, maka Nabi hendaknya tidak memaksa orang beriman. Allah berfirman yang artinya: “Dan jikalau Tuhanmu menhendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.” (QS. Yunus: 99).
Akhirnya, selamat hijrah menuju kebebasan/kemerdekaan yang sesungguhnya dan hanya melalui nilai-nilai Islami tersebut, kita dapat menghantarkan bangsa ini dalam memaknai sebuah arti kemerdekaan yang sebenarnya. Wallahu’alam.*** (Bdg,19/7/02).
DAFTAR INSPIRASI
1. Alquranul Karim.
2. Ahmad Sukardja. Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945. Jakarta: UI Press; 1995.
3. Drs. Sukarna. Kekuasaan, Kediktatoran dan Demokrasi. Bandung: PT. Alumni; 1981.
4. Muhammad Alim. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945. Yogyakarta: UII Press; 2001.
5. Majalah Sabili No. 21 Tahun VI, 5 Mei 1999.
6. Majalah Sabili No. 5 Tahun IX, 29 Agustus 2001.
7. W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka; 1976.
Arda Dinata, adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (MIQRA) dan dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya, Bandung.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Kemerdekaan yang telah “dicapai” bangsa Indonesia adalah rahmat dari Allah SWT. Hasil ini tentu tidak terlepas dari peran umat Islam sebagai kekuatan pembebas pada waktu itu. Dan peran ini harus tidak berhenti sampai di situ, tetapi hal ini hendaknya oleh kita (generasi penerus) terus melakukan perjuangan untuk memelihara serta mengamankan, manakala (saat ini) masih kita jumpai penindasan, ketidakadilan yang menyeruak kembali kepermukaan sejarah. Dalam hal ini, tanpa memperdulikan siapa yang memegang kekuasaan di negeri ini (baca: QS. Ali ‘Imran: 110).
MERDEKA diartikan sebagai bebas (dari perhambaan, penjajahan dsb); berdiri sendiri (tidak terikat, tidak tergantung pada sesuatu yang lain); lepas (dari tuntutan). Orang menyebut kemerdekaan ini dengan kebebasan.
Kondisi bebas itu dapat dimaknai dengan beberapa pengertian. (1) Bebas berarti lepas sama sekali (tidak teralang, terganggu dsb sehingga boleh bergerak, bercakap, berbuat dsb dengan leluasa). (2) Bebas berarti lepas dari (kewajiban, tuntutan, ketakutan dsb). (3) Bebas berarti merdeka (tidak diperintah atau sangat dipengaruhi negara lain). Lantas, timbul pertanyaan bagaimana pandangan Islam terhadap kemerdekaan/kebebasan bagi tiap individu dan bangsa?
Untuk menjawabnya, kita tidak akan terlepas dari arti Islam itu sendiri. Yakni, Islam itu damai. Artinya, apakah ada rasa aman dan damai dalam suatu perbudakan dan penjajahan? Jawabnya, tentu di setiap perbudakan dan penjajahan tidak akan terdapat perdamaian, justru sebaliknya timbul ketakutan dan perkosaan.
Pada tatanan itulah, Islam jelas-jelas anti penjajahan, ketertindasan dan perbudakan. Islam pro kemerdakaan. Ketika seorang anak Adam mengucapkan dua kalimat syahadat, berarti dia telah memproklamasikan kemerdekaan dirinya. Dia telah melepaskan dirinya dari perbudakan antara sesama makhluk.
Dalam sejarah Islam, kita melihat bahwa ketika kalimat dan seruan kemerdekaan (baca: dua kalimat syahadat) menggema menghampiri ke pelosok-pelosok Mekkah, nabi dan para sahabat di tuduh sebagai pengganggu stabilitas nasionalnya, oleh kaum kuffar. Tawaran baik Nabi Saw. berupa “kemerdekaan sesungguhnya” –jalan lurus-- disambut lemparan batu, kotoran binatang, dan caci maki. Tapi, Rasul Saw. Itu tidak serta merta melancarkan balasan peperangan. Malahan sebaliknya ketika kaum kuffar masih tetap mengakui kemerdekaan versi nenek moyangnya, Nabi Saw. tetap tegar “menyanyikan” lagu kemerdekaan yang sesuai risalah illahi itu secara bijaksana.
Di sini, jelas-jelas orang kuffar itu telah salah memaknai arti sebuah kemerdekaan yang hakiki (karena telah tertutup mata hatinya). Padahal kemerdekaan yang mereka anut tersebut secara nyata adalah semata-mata kemerdekaan yang memiliki keterikatan dengan hawa nafsu yang dibuat oleh mereka sendiri –kebebasan yang dibelenggu oleh Hizbussyaithan--. Lantas, bagaimana hakekat sebuah kemerdekaan/kebebasan di Indonesia dewasa ini?
Bagi bangsa Indonesia, merdeka dalam arti yang hakiki ternyata suatu barang langka. Kondisi suburnya tanah; melimpahnya sumber daya alam; letak geografis yang strategis; potensi sumber daya manusia yang melimpah dengan beragam keahlian, suku bangsa dan bahasa, ternyata belum menjadi jaminan bisa meraih kemerdekaan (kebebasan) itu. Bahkan, bisa jadi bangsa dan rakyat kebanyakan justru merasakan ketertindasan dan keterkukungan oleh bangsanya sendiri.”
Berkait dengan itu, menurut dosen FISIP UI, Eep Saefullah Fatah, sebetulnya yang sudah kita capai itu kemerdekaan formal, negara berdaulat. Kemerdekaan hakiki hanya bisa tercapai apabila semua orang di negara yang berdaulat itu benar-benar merdeka.
Sementara itu, dalam pandangan Sosiolog UI, Dr. Imam Prasodjo, salah satu ciri negara merdeka adalah mampu membangkitkan harapan dan kesempatan yang luas kepada warganya untuk memperbaiki taraf hidup. Di negara-negara maju, selalu saja, ada impian atau harapan yang didengungkan. Lebih jauh, diungkapkan bahwa kesempatan tersebut harus diberikan kepada semua orang. Tidak boleh ada diskriminasi karena perbedaan status sosial seperti pada zaman feodal.
Untuk itu, agar kita dapat menikmati makna kemerdekaan yang sesungguhnya, maka setiap kita harus memposisikan kemerdekaan tersebut sesuai dengan nilai-nilai Islam. Yaitu kemerdekaan ini tidak dapat dilakukan secara sekehendak hati setiap individu, kerena hal ini dapat ditumpangi oleh hawa nafsu, sehingga merusak kemerdekaan orang lain dan kemerdekaan itu sendiri.
Lebih jauh dari itu, kemerdekaan sebenarnya merupakan manifestasi keimanan, sehingga kemerdekaan itu mengandung arti tanggung jawab. Seharusnya setiap orang beriman itu akan mempertahankan kemerdekaannya dengan sepenuh kekuatan, baik badan, lisan dan perasaan. Hanya orang yang lemah imannya yang akan mempertahankan kemerdekaannya dengan perasaannya saja (baca: hati).
Oleh sebab itu, bagi mereka yang keras imannya tidak akan mau dan rela melepaskan kemerdekaannya barang sedikit dan sejenak pun. Baginya, kemerdekaan merupakan mahkota kehormatan yang dilimpahkan Tuhan kepadanya. Dan melalui kemerdekaan itulah, seseorang dapat memperbaiki nasibnya, memperoleh derajat tinggi dan memperjuangkan kehormatan yang agung.
Kebebasan dalam Konstitusi Madinah
Berbicara kebebasan, sebenarnya kita membicarakan tentang hak asasi manusia (HAM). Karena, kebebasan itu sendiri merupakan bagian dari HAM. Dalam UUD 1945, kita mengenal ada beberapa hak asasi yang patut didapatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Yaitu hak untuk hidup; persamaan kedudukan (pasal 27); kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat (pasal 28); kemerdekaan beragama (pasal 29); dan hak mendapat pengajaran (pasal 31).
Sementara itu, dalam konstitusi Madinah tersirat beberapa pasal yang merupakan hak asasi manusia, diantaranya: Pertama, hak untuk hidup. Hal ini manusiawi bahwa setiap orang ingin hidup lama. Konstitusi Madinah dalam pasal 14 disebutkan bahwa, “Seorang mukmin tidak boleh membunuh mukmin lain untuk kepentingan orang kafir, dan tidak boleh membantu orang kafir untuk melawan orang mukmin.”
Kedua, hak mencari kebahagiaan. Dalam konstitusi Madinah, telah meletakkan nama Allah SWT pada posisi paling atas. Hal ini memberi makna bahwa kebahagiaan itu bukan hanya semata-mata karena kecukupan materi akan tetapi juga harus berbarengan dengan ketenangan batin. Artinya harus terpenuhi kebutuhan rohani dan jasmani, bukan hanya kesejahteraan atau kebahagiaan orang seorang/golongan tertentu melainkan kebahagiaan seluruh rakyat.
Ketiga, keadilan. Dalam hubungan dengan keadilan ini ialah adanya ketentuan dalam konstitusi Madinah yaitu pasal 20 dan 43 yang tidak memperkenankan melindungi harta dan jiwa orang Quraisy serta orang-orang yang membantunya. Hal ini dikarenakan orang kafir Quraisy memerangi agama Islam waktu itu.
Keempat, kebebasan, yaitu meliputi: (a) Kebebasan mengeluarkan pendapat. Makna ini tersirat dalam konstitusi Madinah pada pasal 12, yaitu: “Bahwa seorang mukmin tidak boleh mengikat persekutuan atau aliasi dengan keluarga mukmin tanpa persetujuan yang lainnya.” Ini mengisyaratkan kita perlu mengeluarkan pendapat (baca: urun rembuk) melalui musyawarah. Demikian pula halnya yang tersirat dalam pasal 17, yaitu: “Sesungguhnya perdamaian orang-orang mukmin itu satu, tidak dibenarkan seorang mukmin membuat perjanjian damai sendiri tanpa mukmin yang lain dalam keadaan perang di jalan Allah, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka.”
(b) Kebebasan beragama. Ada beberapa pasal yang berkait dengan kebebasan beragama ini, diantaranya: “Sesungguhnya Yahudi Bani ‘Auf satu umat bersama orang-orang mukmin, bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi orang-orang muslim agama mereka, …” (pasal 25); “Sesungguhnya Yahudi Bani al-Najjar memperoleh perlakuan yang sama seperti yang berlaku bagi Yahudi Bani ‘Auf.” (pasal 26); “Sesungguhnya orang-orang dekat atau teman kepercayaan kaum Yahudi memperoleh perlakuan yang sama seperti mereka.” (pasal 35).
(c) Kebebasan dari kemiskinan. Konsep ini pada hakekatnya sejalan dengan usaha membebaskan diri dari kekurangan, kemelaratan dan kemiskinan. Kebebasan ini harus diatasi secara bersama, tolong menolong serta saling berbuat kebaikan. Di dalam konstitusi Madinah, upaya masalah ini berupa usaha kolektif bukan usaha individual seperti dalam pandangan Barat.
(d) Kebebasan dari perasaan takut. Pasal yang terkait dengan ini di dalam konstitusi Madinah, antara lain: pasal 14 seperti disebut di awal; pasal 40 (Sesungguhnya tetangga itu seperti diri sendiri, tidak boleh dimudarati dan diperlakukan secara jahat); pasal 47 (….Siapa saja yang keluar dari kota Madinah dan atau tetap tinggal didalamnya aman, kecuali orang yang berbuat aniaya dan dosa….).
Kebebasan dalam Islam
Kebebasan dalam Islam bukan hanya meliputi kemerdekaan/kebebasan dari perbudakan dan penjajahan, tetapi mencakup arena atau bidang yang sangat luas, yaitu: kebebasan berbicara atau melahirkan pendapat (freedom of speech); kebebasan dari rasa ketakutan (freedom from fear); kebebasan dari kemiskinan (freedom from want); dan kebebasan beragama (freedom of religion).
(1) Kebebasan berbicara atau melahirkan pendapat (freedom of speech).
Setiap manusia oleh Allah diberi lidah untuk berbicara. Oleh karena itu, kebebasan berbicara sangat dijunjung dalam Islam. Lagian, adanya hak untuk “mengeluarkan pendapat” ini akan menunjang terhadap tegaknya keadilan dalam kehidupan manusia.
Dalam sebuah hadist disebutkan, jikalau salah seorang di antara kamu melihat sesuatu kemungkaran (kesalahan) ia harus mengubahnya dengan tangannya, kalau ia tidak sanggup melakukannya, maka dengan lidahnya dan kalau itupun tak sanggup melakukannya maka di dalam hatinya, tetapi inipun bentuk iman yang paling rendah.
Sifat dari kebebasan berbicara ini adalah konstruktif di dalam ruang lingkup untuk menegakkan keadilan dan bukan untuk menimbulkan permusuhan serta perpecahan, melainkan untuk memelihara persaudaraan dan kasih sayang, karena hal ini bersumber dari keimanan.
Jadi, kebebasan berbicara atau melahirkan pendapat dalam pandangan Islam ialah diikat dengan tali iman dan akhlak, sehingga menuntut adanya pertanggung jawaban yang tinggi (baca: terhadap diri sendiri, masyarakat dan Allah SWT).
(2) Kebebasan dari rasa ketakutan (freedom from fear).
Setiap manusia menghendaki adanya keamanan dan kedamaian. Artinya, manusia menghendaki adanya kebebasan dari ancaman dan ketakutan. Kondisi kebebasan dari rasa ketakutan tidak akan datang dengan sendirinya melainkan harus diusahakan. Timbul dan lenyapnya kebebasan/kemerdekaan tergantung kepada usaha manusia sendiri. Setiap penjajahan dan perbudakan akan menimbulkan ancaman dan ketakutan. Penjajahan manusia atas manusia atau penjajahan bangsa atas bangsa lain merupakan bentuk kemungakaran dan kelaliman. Perilaku ini dalam Islam adalah dilarang.
Nabi Rasulullah Saw bersabda, “Demi Allah yang nyawaku ditangan-Nya, kamu harus menyuruh orang melakukan yang makruf dan melarang yang mungkar, atau jika tidak begitu Allah akan menimpakan azab atasmu, pada waktu itu kamu akan minta tolong kepada-Nya, tapi Dia tidak akan memperdulikannya.” (HR. Al Tirmidhi --- keterangan Hudhaifah).
(3) Kebebasan dari kemiskinan (freedom from want).
Tidak ada seorang pun manusia yang menghendaki hidup sengsara dan serba kekurangan. Tetapi, keinginan itu tidak akan menjadi realita tanpa bekerja dan usaha. Usaha merupakan jalan untuk tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dalam Alquran, Allah SWT menyuruh kepada kita untuk menyantuni orang-orang miskin, fakir dan anak-anak yatim. Bahkan orang yang tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin serta menghardik anak-anak yatim dikategorikan sebagai orang yang mendustakan agama.
Allah berfirman, yang artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustkan agama? Itulah, orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al Maa’un: 1-3).
Dalam makna yang hampir sama, Allah SWT berfirman, yang artinya: “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang minta-minta janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Adh Dhuhaa: 9-10).
(4) Kebebasan beragama (freedom of religion).
Keberadaan setiap nabi adalah untuk memperingati manusia dari kehancuran dan menonjolkan kepada jalan yang benar, serta menyampaikan aturan-aturan tentang hidup bermasyarakat yang bersumber dari Allah SWT.
Kita melihat kalau kebebasan beragama adalah hak yang paling sering ditindas oleh penguasa yang sewenang-wenang, bahkan oleh golongan yang satu terhadap yang lainnya, maka Islam justru sangat memberikan kebebasan penuh dalam soal urusan agama. Allah berfirman, yang artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah….” (QS. Al Baqarah: 256).
Selain itu, masing-masing orang yang beragama memeluk agamanya serta melaksanakan syariat agamanya. Allah berfirman, yang artinya: “Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kaafiruun: 6). Nabi Muhammad Saw diperingati oleh Allah SWT, bahwa kalau dikehendaki oleh-Nya, semua manusia akan beriman, maka Nabi hendaknya tidak memaksa orang beriman. Allah berfirman yang artinya: “Dan jikalau Tuhanmu menhendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.” (QS. Yunus: 99).
Akhirnya, selamat hijrah menuju kebebasan/kemerdekaan yang sesungguhnya dan hanya melalui nilai-nilai Islami tersebut, kita dapat menghantarkan bangsa ini dalam memaknai sebuah arti kemerdekaan yang sebenarnya. Wallahu’alam.*** (Bdg,19/7/02).
DAFTAR INSPIRASI
1. Alquranul Karim.
2. Ahmad Sukardja. Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945. Jakarta: UI Press; 1995.
3. Drs. Sukarna. Kekuasaan, Kediktatoran dan Demokrasi. Bandung: PT. Alumni; 1981.
4. Muhammad Alim. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945. Yogyakarta: UII Press; 2001.
5. Majalah Sabili No. 21 Tahun VI, 5 Mei 1999.
6. Majalah Sabili No. 5 Tahun IX, 29 Agustus 2001.
7. W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka; 1976.
Arda Dinata, adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (MIQRA) dan dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya, Bandung.
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Koalisi Hati Sebagai Tunas Perdamaian
Oleh: ARDA DINATA
BERITA wafatnya Rasulullah Saw., menorehkan rasa kesedihan teramat berat bagi para sahabat, umat, dan keluarga tercinta. Atau siapa pun yang telah dengan setia dan sepenuh hati hidup bersamanya. Namun, apa yang dilakukan Umar bin Khatab berbeda dengan sahabat lainnya. Umar masih terus berbicara lantang pada orang-orang di sekitar masjid. “Barangsiapa mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah mati akan berhadapan dengan pedangku ini! Rasulullah belum wafat! Ia sedang menghadap Allah, sebagaimana Nabi Musa selama empat puluh hari menemui Rabb-Nya!” teriaknya.
Mendengar suara Umar tersebut, Abu Bakar keluar dari bilik Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Tunggu sebentar, wahai Umar!” panggilnya dengan nada tinggi. Namun, Umar bin Khatab tidak menggubris teguran sahabatnya. Ia terus berbicara lantang.
Lalu, Abu Bakar mengumpulkan orang-orang dan dengan lantang berpidato, “Wahai sekalian manusia. Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup dan tidak mati.” Selanjutnya, Abu Bakar membaca firman Allah dalam QS. Ali Imran: 144, yang artinya: “Muhammad itu tidak lain hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun.”
Pokoknya, tersebarnya berita kematian Rasulullah itu memang menggemparkan kaumnya. Kaum Anshar mendatangi Sa’ad bin Ubadah, berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah di rumah Fathimah. Sementara itu, kaum Muhajirin berkumpul di sekeliling Abu Bakar dan bersama Usaid bin Hudhair di daerah perkampungan Bani Asyhal.
Pada waktu itulah, ada seseorang menemui Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Ia mengatakan, “Kaum Anshar telah berkumpul dengan Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Saidah. Bila engkau berkepentingan dengan urusan mereka, segera temuilah orang-orang itu sebelum semuanya menjadi kacau,” katanya. Sejurus kemudian, Umar berkata kepada Abu Bakar, “Mari kita temui saudara kita kaum Anshar, agar kita bisa melihat apa yang mereka lakukan.”
Ketika Abu Bakar dan Umar tiba di Saqifah Bani Saidah, sebenarnya orang-orang kaum Anshar ini sudah meminta agar kaum Anshar dan Muhajirin mengangkat pemimpinnya masing-masing. Namun akhirnya, kemelut siapa yang menjadi pemimpin di antara dua golongan itu bisa diatasi dengan baik, setelah kedatangan Umar dan Abu Bakar.
Gagasan adanya dua pemimpin itu ditolak. Umar maju memegang tangan Abu Bakar, lantas membaiatnya. Tidak lama kemudian, para sahabat yang hadir pada saat itu secara bergantian membaiatnya. Dan keesokan harinya, orang-orang hadir di Masjid Nabawi dalam baiat umum untuk menyatakan kepada pemimpin mereka yang baru itu.
* *
SEPENGGAL kisah di atas, sesungguhnya telah menuntun kita agar mampu membiasakan diri membangun koalisi hati di tengah-tengah keberagaman umat, lagi penuh aneka warna kehidupan. Seperti tergambar dari kesigapan para sahabat senior itu yang mampu menyatukan aneka kepentingan dari kaum Anshar dan Muhajirin. Dan bisa jadi bila tidak segera diambil keputusan, tentu akan timbul perpecahan yang mendera umat Islam saat itu. Dalam arti lain, kondisi keterpautan hati kedua kepentingan golongan itu, sesungguhnya merupakan sebuah gambaran obsesi kemuliaan dan bagaimana cara memperturutinya. Inilah sesungguhnya sebuah kejujuran akan kedamaian.
Lebih jauh, bila kita tafakuri dalam relung hati yang paling tersembunyi sekali pun, akan ditemui jawaban kejujuran itu. Adakah yang lebih jujur dari hati nurani, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan kehilafan ini. Singkatnya, sesungguhnya kondisi yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini, tidak lain saat di mana kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati (keimanan).
Sehingga pantas Imam Turmudzi mengatakan, “Hidupnya hati karena iman dan kematiannya karena kekufuran. Sehatnya hati karena ketaatan dan sakitnya hati karena terus-menerus mengerjakan kemaksiatan. Kesadarannya hati karena dzikir dan tidurnya hati karena kelengahan.” Jadi, imanlah yang harus menjadi dasar dalam membangun koalisi hati ini. Lebih-lebih realitas kehidupan mengajarkan bahwa sesungguhnya hidup itu dibangun atas keberagaman dalam bingkai “kesatuan keimanan”.
Abu Hamid al-Ghazali mengungkapkan, iman adalah pembenaran dengan hati yang kuat, yang tidak ada keraguan padanya, hingga mencapai derajat yakin. Dan, antitesa iman adalah kufur yang merupakan pembangkangan, pengingkaran, dan pendustaan terhadap Rasulullah dan atas sesuatu yang beliau sampaikan. Sedangkan, iman adalah pembenaran seluruh yang beliau sampaikan dan bentuknya ini bersifat plural sesuai dengan pluralitas tingkat takwil bagi wujud ini.
Di sini, inti yang patut disandarkan dalam perilaku membangun kedamaian hidup adalah tafsir akan kesatuan iman itu tidak berarti kesatuan akan jalan dan perangkat serta teknis yang dipergunakan oleh seorang mukmin dalam menghasilkan keimanan. Aktualisasinya, berarti saat di mana kelompok mukmin dalam kehidupan berbangsa lebih memilih “warna tafsirnya” masing-masing. Maka sesungguhnya, bagi dirinya tidak bisa memungkiri atas kesatuan keimanan yang telah diyakininya. Artinya, ketika usaha mewujudkan kedamaian itu secara fisikal berbeda-beda warna dan ”susah untuk dipersatukan,” maka saat itulah jalan harapan satu-satunya adalah berupa mewujudkan terciptanya “koalisi hati” dalam mengambil keputusan untuk kepentingan umat.
* *
KOALISI hati, adalah kata yang indah dan memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa, bila kita mampu mensinergikannya. Misal, seperti apa yang pernah terjadi di Madinah ketika meletakan bentuk masyarakat Islam pertama setelah hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Disanalah terbentuknya persaudaraan antar kaum mukmin sebagai tonggak pertama untuk menegakkan masyarakat baru. Yaitu dengan mempersatukan mereka ke dalam satu ikatan yang kokoh atas dasar rasa cinta dan kasih sayang, sehingga kaum Anshar (penduduk Madinah) terbuka hatinya dan merelakan rumah tempat tinggalnya dimanfaatkan untuk kepentingan saudara-saudaranya dari Makkah (Muhajirin) walaupun diantara mereka tidak ada hubungan rahim.
Pokoknya, atas dasar kecintaan terhadap saudaranya yang berdasar pada iman dan taqwa tersebut, maka kaum Anshar rela sepenuh hati untuk membantu segala keperluan kaum Muhajirin, sehingga akhirnya mereka bersatu dalam bangunan “masyarakat Islam”.
Jadi, adanya koalisi hati yang dibalut keimanan semacam itu adalah sesuatu yang penting untuk kita kedepankan. Lebih-lebih hal ini diperuntukan untuk kebaikan bersama. Tanpa ada koalisi hati, sesungguhnya tidak mungkin ada perdamaian dalam hidup manusia. Karena, bukankah perdamian itu sendiri merupakan fitrah dari hati manusia?
Sebenarnya, kekuatan koalisi hati tak hanya terletak pada fitrahnya semata-mata. Tapi, lebih dari itu, hati sendiri pada dasarnya merupakan tunas dari kekuatan kedamaian. Dr. Ahmad Faried, menggambarkan bahwa hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah sebagai reaktor pengendali atau remote control sekaligus pemegang komando terdepan (utama). Oleh karena itu, semua anggota tubuh berada dibawah komando dan dominasinya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, dalam ketaatan atau penyimpangan.
Akhirnya, bisa kita bayangkan betapa luar biasanya bila kekuatan kaum mukmin di Indonesia saat ini mampu dipersatukan melalui “bangunan koalisi hati”? Maka tatanan kedamaian itu, tentu akan menjadi cerita indah tersendiri bagi penduduknya. Sehingga tidak berlebihan kalau untuk membangun koalisi hati sebagai tunas perdamaian itu, dibutuhkan keahlian dan kapasitas dari orang-orang yang tidak biasa-biasa saja. Dialah sosok manusia yang mampu merealisasikan “bahasa kejujuran” pada hati nurani, yang disirami dengan iman dan keyakinan penuh kepada Allah, sehingga darinya akan lahir mata air kedamaian yang tidak pernah kering. Pertanyaannya, mau tidak kita mewujudkannya? Wallahu a’lam. ***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
BERITA wafatnya Rasulullah Saw., menorehkan rasa kesedihan teramat berat bagi para sahabat, umat, dan keluarga tercinta. Atau siapa pun yang telah dengan setia dan sepenuh hati hidup bersamanya. Namun, apa yang dilakukan Umar bin Khatab berbeda dengan sahabat lainnya. Umar masih terus berbicara lantang pada orang-orang di sekitar masjid. “Barangsiapa mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah mati akan berhadapan dengan pedangku ini! Rasulullah belum wafat! Ia sedang menghadap Allah, sebagaimana Nabi Musa selama empat puluh hari menemui Rabb-Nya!” teriaknya.
Mendengar suara Umar tersebut, Abu Bakar keluar dari bilik Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Tunggu sebentar, wahai Umar!” panggilnya dengan nada tinggi. Namun, Umar bin Khatab tidak menggubris teguran sahabatnya. Ia terus berbicara lantang.
Lalu, Abu Bakar mengumpulkan orang-orang dan dengan lantang berpidato, “Wahai sekalian manusia. Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup dan tidak mati.” Selanjutnya, Abu Bakar membaca firman Allah dalam QS. Ali Imran: 144, yang artinya: “Muhammad itu tidak lain hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun.”
Pokoknya, tersebarnya berita kematian Rasulullah itu memang menggemparkan kaumnya. Kaum Anshar mendatangi Sa’ad bin Ubadah, berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah di rumah Fathimah. Sementara itu, kaum Muhajirin berkumpul di sekeliling Abu Bakar dan bersama Usaid bin Hudhair di daerah perkampungan Bani Asyhal.
Pada waktu itulah, ada seseorang menemui Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Ia mengatakan, “Kaum Anshar telah berkumpul dengan Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Saidah. Bila engkau berkepentingan dengan urusan mereka, segera temuilah orang-orang itu sebelum semuanya menjadi kacau,” katanya. Sejurus kemudian, Umar berkata kepada Abu Bakar, “Mari kita temui saudara kita kaum Anshar, agar kita bisa melihat apa yang mereka lakukan.”
Ketika Abu Bakar dan Umar tiba di Saqifah Bani Saidah, sebenarnya orang-orang kaum Anshar ini sudah meminta agar kaum Anshar dan Muhajirin mengangkat pemimpinnya masing-masing. Namun akhirnya, kemelut siapa yang menjadi pemimpin di antara dua golongan itu bisa diatasi dengan baik, setelah kedatangan Umar dan Abu Bakar.
Gagasan adanya dua pemimpin itu ditolak. Umar maju memegang tangan Abu Bakar, lantas membaiatnya. Tidak lama kemudian, para sahabat yang hadir pada saat itu secara bergantian membaiatnya. Dan keesokan harinya, orang-orang hadir di Masjid Nabawi dalam baiat umum untuk menyatakan kepada pemimpin mereka yang baru itu.
* *
SEPENGGAL kisah di atas, sesungguhnya telah menuntun kita agar mampu membiasakan diri membangun koalisi hati di tengah-tengah keberagaman umat, lagi penuh aneka warna kehidupan. Seperti tergambar dari kesigapan para sahabat senior itu yang mampu menyatukan aneka kepentingan dari kaum Anshar dan Muhajirin. Dan bisa jadi bila tidak segera diambil keputusan, tentu akan timbul perpecahan yang mendera umat Islam saat itu. Dalam arti lain, kondisi keterpautan hati kedua kepentingan golongan itu, sesungguhnya merupakan sebuah gambaran obsesi kemuliaan dan bagaimana cara memperturutinya. Inilah sesungguhnya sebuah kejujuran akan kedamaian.
Lebih jauh, bila kita tafakuri dalam relung hati yang paling tersembunyi sekali pun, akan ditemui jawaban kejujuran itu. Adakah yang lebih jujur dari hati nurani, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan kehilafan ini. Singkatnya, sesungguhnya kondisi yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini, tidak lain saat di mana kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati (keimanan).
Sehingga pantas Imam Turmudzi mengatakan, “Hidupnya hati karena iman dan kematiannya karena kekufuran. Sehatnya hati karena ketaatan dan sakitnya hati karena terus-menerus mengerjakan kemaksiatan. Kesadarannya hati karena dzikir dan tidurnya hati karena kelengahan.” Jadi, imanlah yang harus menjadi dasar dalam membangun koalisi hati ini. Lebih-lebih realitas kehidupan mengajarkan bahwa sesungguhnya hidup itu dibangun atas keberagaman dalam bingkai “kesatuan keimanan”.
Abu Hamid al-Ghazali mengungkapkan, iman adalah pembenaran dengan hati yang kuat, yang tidak ada keraguan padanya, hingga mencapai derajat yakin. Dan, antitesa iman adalah kufur yang merupakan pembangkangan, pengingkaran, dan pendustaan terhadap Rasulullah dan atas sesuatu yang beliau sampaikan. Sedangkan, iman adalah pembenaran seluruh yang beliau sampaikan dan bentuknya ini bersifat plural sesuai dengan pluralitas tingkat takwil bagi wujud ini.
Di sini, inti yang patut disandarkan dalam perilaku membangun kedamaian hidup adalah tafsir akan kesatuan iman itu tidak berarti kesatuan akan jalan dan perangkat serta teknis yang dipergunakan oleh seorang mukmin dalam menghasilkan keimanan. Aktualisasinya, berarti saat di mana kelompok mukmin dalam kehidupan berbangsa lebih memilih “warna tafsirnya” masing-masing. Maka sesungguhnya, bagi dirinya tidak bisa memungkiri atas kesatuan keimanan yang telah diyakininya. Artinya, ketika usaha mewujudkan kedamaian itu secara fisikal berbeda-beda warna dan ”susah untuk dipersatukan,” maka saat itulah jalan harapan satu-satunya adalah berupa mewujudkan terciptanya “koalisi hati” dalam mengambil keputusan untuk kepentingan umat.
* *
KOALISI hati, adalah kata yang indah dan memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa, bila kita mampu mensinergikannya. Misal, seperti apa yang pernah terjadi di Madinah ketika meletakan bentuk masyarakat Islam pertama setelah hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Disanalah terbentuknya persaudaraan antar kaum mukmin sebagai tonggak pertama untuk menegakkan masyarakat baru. Yaitu dengan mempersatukan mereka ke dalam satu ikatan yang kokoh atas dasar rasa cinta dan kasih sayang, sehingga kaum Anshar (penduduk Madinah) terbuka hatinya dan merelakan rumah tempat tinggalnya dimanfaatkan untuk kepentingan saudara-saudaranya dari Makkah (Muhajirin) walaupun diantara mereka tidak ada hubungan rahim.
Pokoknya, atas dasar kecintaan terhadap saudaranya yang berdasar pada iman dan taqwa tersebut, maka kaum Anshar rela sepenuh hati untuk membantu segala keperluan kaum Muhajirin, sehingga akhirnya mereka bersatu dalam bangunan “masyarakat Islam”.
Jadi, adanya koalisi hati yang dibalut keimanan semacam itu adalah sesuatu yang penting untuk kita kedepankan. Lebih-lebih hal ini diperuntukan untuk kebaikan bersama. Tanpa ada koalisi hati, sesungguhnya tidak mungkin ada perdamaian dalam hidup manusia. Karena, bukankah perdamian itu sendiri merupakan fitrah dari hati manusia?
Sebenarnya, kekuatan koalisi hati tak hanya terletak pada fitrahnya semata-mata. Tapi, lebih dari itu, hati sendiri pada dasarnya merupakan tunas dari kekuatan kedamaian. Dr. Ahmad Faried, menggambarkan bahwa hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah sebagai reaktor pengendali atau remote control sekaligus pemegang komando terdepan (utama). Oleh karena itu, semua anggota tubuh berada dibawah komando dan dominasinya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, dalam ketaatan atau penyimpangan.
Akhirnya, bisa kita bayangkan betapa luar biasanya bila kekuatan kaum mukmin di Indonesia saat ini mampu dipersatukan melalui “bangunan koalisi hati”? Maka tatanan kedamaian itu, tentu akan menjadi cerita indah tersendiri bagi penduduknya. Sehingga tidak berlebihan kalau untuk membangun koalisi hati sebagai tunas perdamaian itu, dibutuhkan keahlian dan kapasitas dari orang-orang yang tidak biasa-biasa saja. Dialah sosok manusia yang mampu merealisasikan “bahasa kejujuran” pada hati nurani, yang disirami dengan iman dan keyakinan penuh kepada Allah, sehingga darinya akan lahir mata air kedamaian yang tidak pernah kering. Pertanyaannya, mau tidak kita mewujudkannya? Wallahu a’lam. ***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Test Footer
|
BLOG IS MY SALESMAN ARDA DINATA: | PULSA KEKAYAAN GRATIS | Arda News Success | Blogging Success | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy| | ARDA EKLIPING INDONESIA | Cara Menjadi Kaya | Dunia Kesehatan Spritual | Dunia Pustaka dan Referensi | Dunia Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang | Dunia Kesehatan Lingkungan | ALIFIA E-Clipping and Reviewing | Reuse News Indonesia | ARDA Reseller News | Rahasia Penulis Sukses | Reseller News Indonesia | |
|
MENU ARDA EKLIPING INDONESIA: | BERANDA KLIPING | KLIP IPTEK | KLIP PSIKOLOGI | KLIP WANITA | KLIP KELUARGA | KLIP ANAK CERDAS | KLIP BELIA & REMAJA | KLIP GURU & PENDIDIKAN | KLIP HIKMAH & RENUNGAN | |
|
MENU HIDUP SEHAT DAN KAYA: | Dunia Spritual dan Kesehatan | Rahasia Menjadi Kaya | Dunia Reseller | Reuse News | Pustaka Bisnis | |
|
MENU ARDA PENULIS SUKSES: | Inspirasi Penulis | Rahasia Penulis | Media Penulis | Sosok Penulis | Pustaka Penulis | |
|
MENU AKADEMI PEMBERANTASAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG: | Dunia P2B2 | Dunia NYAMUK | Dunia LALAT | Dunia TIKUS | Dunia KECOA | Pustaka P2B2 | |
|
MENU AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN: | Inspirasi ARDA | Dasar KESLING | P.Sampah | Tinja & Aair Limbah | Binatang Pengganggu | Rumah & Pemukiman Sehat | Pencemaran Lingkungan Fisik | HYPERKES | Hygiene Sanitasi Makanan | Sanitasi Tempat Umum | Air Bersih | Pustaka Kesehatan | |
|
MIQRA INDONESIA GROUP Kantor Pusat: Jl. Raya Panganadaran Km.3 Pangandaran Ciamis 46396 Telp. (0265) 630058 Copyright © 2006-2010, Miqra Indonesia, Email : miqra_indo@yahoo.co.id Homepage : http://www.miqra.blogspot.com/ Design by Arda Dinata, Wong Tempel Kulon - Kec. Lelea - Kab. Indramayu - Indonesia |